Sabtu, 19 Mei 2018

Review-6 Dimensi Pengendalian Sosial 1

| | 0 komentar


Pada 16 April 2018 pada mata kuliah sosiologi perilaku menyimpang Pak Rahman menjelaskan mengenai apa itu pengendalian sosial.

Jadi, Pak Rahman menjelaskan bahwa Pengendalian Sosial itu merupakan cara menghadapi perilaku yang dianggap melanggar norma sosial. Sedangkan menurut Berger (dalam PPT materi) pengendalian sosial adalah berbagai cara yang digunakan masyarakat untuk menertibkan anggota yang membangkang.

Lalu apa sebenarnya tujuan pengendalian sosial ? Jadi, pengendalian sosial bertujuan untuk memastikan/ paling kurang berusaha memastikan konformitas terhadap norma. Sebenarnya pengendalian sosial bisa dilakukan sebelum/sesudah terjadi kejadian (berkaitan dengan teori kontrol).

Kemudian mengapa masyarakat bersikap konformitas teradap norma ? Hal ini dikarenakan: 1) Mereka tidak punya pilihan lain. 2) Karena adanya bujukan untuk bersikap konformis terhadap norma tersebut 3) Karena adanya penjagaan, baik penjagaan fisik maupun sosial.

Sumber: - Perkuliahan 16 April 2018, Mata Kuliah Sosiologi Perilaku Menyimpang, FIS-UNJ
Read more...

Review-5 Dimensi Pengendalian Sosial 2

| | 0 komentar

Masih berkaitan dengan pertemuan minggu lalu, pada 23 April Pak Rahman menjelaskan kelanjutan dari materi pengendalian Sosial.

Pak Rahman menjelaskan bahwa dimensi pengendalian sosial membahas mengenai bagaimana mencegah agar suatu penyimpangan tidak terjadi/terulang lagi dan bukan bersifat sanksi.

Kemudian, proses pengendalian sosial terbagi menjadi 2, yaitu formal dan informal. Contoh proses pengendalian dalam bentuk formal misalnya tekanan kelompok sekunder (masyarakat). Sedangkan proses pengendalian dalam bentuk informal merupakan proses pengendalian sosial yang dilakukan tanpa adanya organ yang sengaja di bentuk untuk melakukan pengendalian sosial/sanksi (tidak ada kesengajaan). Misalnya, sosialisasi dan tekanan kelompok primer (keluarga).

Selain itu ada hal-hal yang dilakukan dalam pengendalian sosial dalam sudut pandang sosiologi - Internalisasi norma kelompok yang terdiri dari bentuk (sosialisasi) dan bersifat mencegah. Internalisasi norma kelompok juga berupa nilai/norma. - Reaksi (langsung) sosial yang bentuknya berupa teguran.




Sumber: - Perkuliahan 23 April 2018,Mata Kuliah Sosiologi Perilaku Menyimpang, FIS-UNJ
Read more...

Jumat, 18 Mei 2018

POTRET KEMISKINAN DI PEDESAAN (Studi Kasus: Kampung Cigintung, Desa Sukajaya, Kecamatan Jonggol, Bogor)

| | 0 komentar


POTRET KEMISKINAN DI PEDESAAN
Studi Kasus: Kampung Cigintung, Desa Sukajaya, Kecamatan Jonggol, Bogor
Oleh: Fadli Ramadhan, Gusniar, Rachmaina Putri Utami, Riana Dwi Nandita, Ruth Kristin Destiana, Serly Septriana
Pendidikan Sosiologi B 2015
Fakultas Ilmu Sosial
Universitas Negeri Jakarta


ABSTRAK
Masalah kemiskinan merupakan masalah yang muncul disetiap Negara, terutama negara-negara berkembang. Indonesia memiliki cara untuk melakukan pembangunan yaitu dengan cara melakukan pembanguan didesa bukan hanya dikota saja. Di Kabupaten khususnya di Jonggol implementasi kebijakan pembanguan desa sebagai upaya penanggulangan kemiskinan menunjukan hasil yang tidak optimal yang disebabkan oleh kebijakan pembanguan desa yang selama ini tidak berdasarkan pada potensi desa, tidak menyeluruh, dan banyaknya desa yang terisolasi sehingga dilupakan oleh pemerintah setempat. Peneliti tertarik untuk meneliti sumberdaya, disposisi dan letak geografis yang terisolir yang menyebabkan kemiskinan di Kampung Cigintung Desa Sukajaya Kecamatan Jonggol,Bogor.Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif melalui observasi kelapangan dengan mengumpulkan hasil wawancara dan dokumentasi yang disertai studi pustaka. Dalam penelitian ini peneliti mengaitkan masalah kemiskinan dengan teori budaya kemiskinan Oscar Lewis, perangkap kemiskian Robert Chambers, dan teori konflik dalam melihat kemiskinan menurut Landis. Unit analisis penelitian terdiri dari lembaga desa yang diwakilakan oleh Kepala Desa, Kepala Keamaan Desa, dan RT setempat serta enam orang masyarakat sekitar untuk menggali informasi lebih dalam.Hasil penelitian menunjukan bahwa faktor yang menyebabkan Kampung Cigintung menjadi desa miskin karena akses yang terisolir, serta mata pencaharian masyarakat sekitar hanya bergantung dibidang agraris saja, tingkat pendidikan yang rendah, serta kurangnya sanitasi sehingga permasalahan kesehatan muncul.

Kata kunci: Implementasi, Kemiskinan, Kebijakan, Pembangunan Desa


PENGANTAR

Kemiskinan merupakan masalah lama yang pada umumnya dihadapi hampir di semua negara-negara berkembang, terutama negara yang padat penduduknya seperti Indonesia. Kemiskinan seharusnya menjadi masalah bersama yang harus ditanggulangi secara serius, kemiskinan bukanlah masalah pribadi, golongan bahkan pemerintah saja, akan tetapi hal ini merupakan masalah setiap warga negara Indonesia. Kepedulian dan kesadaran antar sesama warga diharapkan dapat membantu menekan tingkat kemiskinan di Indonesia.
Pada hasil riset 2012 yang di keluarkan oleh kompasiana.com menunjukan bahwa jumlah masyarakat di 6provinsi di Pulau Jawa kurang lebih 17 juta penduduk yang masuk kategori warga miskin di perkotaan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dalam tabel berikut:
Tabel 1
Jumlah Warga Miskin di Indonesia
Nama Daerah
Jumlah
Jawa barat
5.356.210 33,3
Jawa tengah
4.648.630 27,3
Jogjakarta
560.880 3,2
Jawa timur
5.107.360 30,05
Banten
690.490 4,05
DKI Jakarta
363.420 2,1
Sumber: Kompasiana.com[1]

Berdasarkan table diatas daerah Jawa Barat memiliki peringkat paling tinggi dalam hal kemiskian.Masyarakat kita sebagain besar tinggal didaerah pedesaan, dan sebagian besar penduduknya hidup dalam kemiskinan. Penyebab kemiskinan masyarakat desa yaitu Keisolasian wilayah, kekurangan sumber daya alam dan rusaknya lingkungan sekitarnya. Kemiskinan merupakan salah satu persoalan mendasar yang menjadi pusat perhatian pemerintah di negara manapun serta kemiskinan merupakan gambaran kehidupan di banyak negara berkembang yang mencakup lebih dari satu milyar penduduk dunia. Fenomena kemiskinan merupakan permasalahan yang diakibatkan oleh kondisi nasional suatu negara dan situasi global. Globalisasi ekonomi dan bertambahnya ketergantungan antar negara, tidak hanya merupakan tantangan dan kesempatan bagi pertumbuhan ekonomi serta pembangunan suatu negara, tetapi juga mengandung resiko dan ketidakpastian masa depan perekonomian dunia. Suatu negara dikatakan miskin biasanya ditandai dengan tingkat pendapatan perkapita rendah, mempunyai tingkat pertumbuhan penduduk yang tinggi (lebih dari 2 persen per tahun), sebagian besar tenaga kerja bergerak di sektor pertanian dan terbelenggu dalam lingkaran  kemiskinan.Selanjutnya kita bisa melihat bagaimana kemiskinan itu sangat erat kaitannya dengan keterisolasian dan keterbelakangan, Keterbatasan akses dan mutu pelayanan kesehatan hal ini dikarenakan sarana kesehatan umumnya dibangun hanya sampai wilayah kecamatan, dengan sarana dan prasarana yang serta sumber daya manusia yang sangat terbatas. Keterbatasan akses dan mutu pendidikan dipedesaan menjadikan pendidikan merupakan hal yang tidak penting. Mereka berfikir dengan bisa membantu berladang maka akan terpenuhi kebutuhan hidupnya, karena di desa masih banyak menyedikan lahan yang cukup untuk bertani dan berkebun. Minimnya akses Transportasi, pendidikan dan kesehatan tersebut diatas jelas akan menyebabkan kemiskinan di pedesaan. Dengan berbagai keterbatasan tersebut maka penduduk desa bekerja untuk mendapatkan hasil yang sangat terbatas walau sudah berusaha maksimal. Disamping itu apabila banyaknya hasil komoditi di desa tersebut tidak bisa digunakan secara maksimal yang meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa tersebut, sehingga tidak dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Kampung Cigintung Desa Sukajaya Jonggol merupakan daerah yang memiliki akses perkampungan sangat jauh dari akses jalan besar dan hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki untuk mencapai perkampungan tersebut serta struktur jalan yang  buruk dan membahayakan yang menyebabkan daerah tersebut terisolasi. Hal tersebut yang menjadi ketertarikan sendiri sehingga peneliti tertarik untuk meneliti sumberdaya , disposisi dan letak geografis yang terisolir yang menyebabkan kemiskinan di Kampung Cigintung Desa Sukajaya Jonggol Jawa Barat. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif melalui observasi kelapangan dengan mengumpulkan hasil wawancara dan dokumentasi yang disertai studi pustaka dengan teori budaya kemiskinan Oscar lewis , perangkap kemiskian Robert chambers, pengertian desa menurut Landis serta mengkaji dengan menggunakan pendekatan persepektif konflik. Unit analisis penelitian terdiri dari lembaga desa yang diwakilakan oleh Kepala Desa , Kepala Keamaan Desa, dan RT setempat serta masyarakat sekitar.

Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas maka penulis menguraikan rumusan masalah dibawah ini :
1.      Bagaimana fakta dan kondisi demografi Kampung Cigintung Desa Sukajaya ?
2.      Apa faktor penyebab kemiskinan di Kampung Cigintung Desa Sukajaya ?
3.      Apa yang menjadi faktor penghambat di Kampung Cigintung Desa Sukajaya dalam mengatasi kemiskinan ?
4.      Apa dampak yang ditimbulkan akibat dari kemiskinan di Kampung Cigintung Desa Sukajaya ?

Tujuan Penelitian
Berdasarkan pada rumusan masalah masalah diatas, maka penelitian ini bertujuan :
1.      Untuk mengetahui faktor penyebab terjadinya kemiskinan pada masyarakat Kampung Cigintung Desa Sukajaya Kabupaten Bogor.
2.      Untuk mengetahui faktor penghambat dalam mengatasi kemiskinan di Kampung Cigintung Desa Sukajaya Kabupaten Bogor.
3.      Untuk mengetahui dampak yang terjadi akibat dari kemiskian di Kampung Cigintung Desa Sukajaya Kabupaten Bogor.

Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian yang penulis lakukan adalah sebagai berikut :
1.      Dengan adanya hasil penelitian atau observasi tentang kemiskinan pada masyarakat Kampung Cigintung Desa Sukajaya Kabupaten Bogor, maka hasil penelitian ini diharapkan agar dapat memberi sumbangsih kepada masyarakat sekitar yang dominan berprofesi sebagai petani miskin suapaya mampu mengatasi problematika kemiskinan.
2.      Dengan adanya hasil penelitian ini diharapkan juga agar dapat memberi sumbangsih kepada Kampung Cigintung Desa Sukajaya agar pemerintah khususnya pemerintah daerah dapat memberikan perhatian lebih kepada kondisi wilayah dan masyarakat Kampung Cigintung Desa Sukajaya  tersebut.
3.      Penelitian ini juga diharapkan dapat memberi sumbangan ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi mahasiswa jurusan sosiologi maupun pembaca lainnya.

Kajian Teoritis
1.      Tinjauan Desa
Pada umumnya pengertian desa dikaitkan dengan pertanian, yang sebenarnya masih bisa didefinisikan lagi berdasarkan pada jenis dan tingkatannya. Menurut Koentjaraningrat mendefinisikan desa itu sebagai komunitas kecil yang menetap tetap di suatu tempat sedangkan menurut Paul H Landis terdapat tiga definisi tentang desa yaitu pertama desa itu lingkungan yang penduduknya kurang dari 2.500 orang, kedua desa adalah suatu lingkungan yang penduduknya mempunyai hubungan yang saling akrab serba informal satu sama lain, dan yang ketiga desa adalah suatu lingkungan yang penduduknya hidup dari pertanian. Suatu daerah dapat dikatakan sebuah desa apabila masih memiliki cirri khas yang membedakannya dengan wilayah sekita. Umumnya letak desa relative jauh dari kota dan bersifat rural, lingkungan alam masih besar peranan dan pengaruhnya terhadap kehidupan masyarakat daj umumnya bermata pencaharian bercorak agraris dan relative homogen.[2]
Hubungan kekerabatan atau corak kehidupan masyarakat desa bersifat gemainschaft yang berarti memiliki komunitas yang kuat serta interaksinya yang intim dan langgeng juga bersifat familistik. Masyarakat desa sangat menjunjung tinggi prinsip-prinsip kebersamaan/gotong-royong, kekeluargaan, solidaritas, musyawarah, kerukunan dan keterlibatan sosial. Jumlah warga di desa umumnya relative kecil dengan penguasaan IPTEK yang relative rendah, sehingga produksi barang dan jasa relative rendah. Pembagian kerja dan spesialisasi juga belum banyak dikenal, sehingga diferensiasi sosial masih terbilang sedikit. Dan yang paling terlihat yaitu kehidupan sosial budayanya bersifat stastis, dan monoton dengan tingkat perkembangan yang lamban.
Menurut Landis, masyarakat desa memiliki kecenderungan psikologi antara lain:
a.       Sering merasa rendah diri terhadap orang luar/kota.
b.      Sikap orang tua seringkali otoriter.
c.       Kurang peduli pada orang lain.
d.      Konservatif.
e.       Toleran terhadap nilai kelompok senidir, dan tidak toleran pada nilai kelompok lain.
f.       Kurang kontak dengan dunia dan budaya luar.
g.      Pasrah.
2.      Ciri-ciri Kemiskinan
Kemiskinan adalah suatu kondisi ketidakmampuan secara ekonomi untuk memenuhi standar hidup rata-rata masyarakat di suatu daerah. Kondisi ketidakmampuan ini ditandai dengan rendahnya kemampuan pendapatan untuk memenuhi kebutuhan pokok baik berupa pangan, sandang, maupun papan. Kemampuan pendapatan yang rendah ini juga akan berdampak berkurangnya kemampuan untuk memenuhi standar hidup rata-rata seperti standar kesehatan masyarakat dan standar pendidikan.
Menurut Supardi Suparlan dalam bukunya yang berjudul Kemiskinan di Perkotaan, pengertian kemiskinan adalah:
Suatu standar tingkat hidup yang rendah, yaitu adanya suatu tingkat kekurangan materi pada sejumlah atau segolongan orang dibandingkan dengan standar kehidupan yang umum berlaku dalam masyarakat yang bersangkutan. Standar kehidupan yang rendah ini secara langsung nampak pengaruhnya terhadap tingkat keadaan kesehatan, kehidupan moral, dan rasa harga diri dari mereka yang tergolong sebagai orang miskin.[3]
Di bawah ini akan peneliti jelaskan empat faktor penyebab kemiskinan yang dibahas secara konseptual, antara lain:
a)      Faktor individual, terkait dengan kondisi fisik dan psikologis seseorang. Orang menjadi miskin karena disebabkan oleh perilaku, pilihan, atau kemampuan dari orang miskin itu sendiri dalam menghadapi kehidupannya.
b)      Faktor sosial, terkait dengan kondisi lingkungan sosial yang menyebabkan seseorang menjadi miskin. Seperti, diskriminasi berdasarkan usia, gender, dan etnis.
c)      Faktor kultural, terkait dengan kondisi budaya yang menyebabkan kemiskinan, yaitu kebiasaan hidup.
d)     Faktor struktural, terkait dengan struktur atau sistem yang tidak adil, tidak sensitif, dan tidak accessible sehingga menyebabkan seseorang atau sekelompok orang menjadi miskin[4]
Kemiskinan merupakan persoalan multidimensi yang mencakup berbagai akses kehidupan, tidak hanya mencakup sisi ekonomi, tetapi juga sosial dan budaya. Kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasarnya baik dari kebutuhan dasar makanan maupun non makanan yang diukur dari sisi pengeluaran. Ada 14 kriteria yang dipergunakan untuk menentukan keluarga/ rumah tangga dikategorikan miskin adalah:
1.       Luas lantai bangunan tempat tinggal kurang dari 8 m2 per orang.
2.       Jenis lantai tempat tinggal terbuat dari tanah/ bambu / kayu murahan.
3.       Jenis dinding tempat tinggal dari bambu / rumbia / kayu berkualitas rendah / tembok tanpa diplester.
4.       Tidak memiliki fasilitas buang air besar / bersama-sama dengan rumah tangga lain.
5.       Sumber penerangan rumah tangga tidak menggunakan listrik.
6.       Sumber air minum berasal dari sumur / mata air tidak terlindung / sungai /air hujan.
7.       Bahan bakar untuk memasak sehari-hari adalah kayu bakar / arang / minyak tanah.
8.       Hanya mengkonsumsi daging / susu / ayam satu kali dalam seminggu.
9.       Hanya membeli satu stel pakaian baru dalam setahun.
10.   Hanya sanggup makan sebanyak satu / dua kali dalam sehari.
11.   Tidak sanggup membayar biaya pengobatan di puskesmas / poliklinik.
12.   Sumber penghasilan kepala rumah tangga adalah : petani dengan luas lahan 500 m2, buruh tani, nelayan, buruh bangunan, buruh perkebunan dan atau pekerjaan lainnya dengan pendapatan dibawah Rp. 600.000,- per bulan.
13.   Pendidikan tertinggi kepala rumah tangga : tidak sekolah / tidak tamat SD/ hanya SD.
14.   Tidak memiliki tabungan / barang yang mudah dijual dengan minimal Rp. 500.000,- seperti sepeda motor kredit / non kredit, emas, ternak, kapal motor, atau barang modal lainnya.[5]
Jika minimal 9 variabel terpenuhi maka suatu rumah tangga dikategorikan sebagai rumah tangga miskin.
3.      Budaya Kemiskinan menurut Oscar Lewis
Teori ini pertama kali dikemukakan oleh Oscar Lewis. Ia adalah seorang Antopolog asal Amerika. Menurut Lewis menjelaskan tentang kebudayaan kemiskinan sebagai berikut:
Kebudayaan kemiskinan dapat terwujud dalam berbagai konteks sejarah. Namun lebih cenderung untuk tumbuh dan berkembang di dalam masyarakat yang mempunyai seperangkat kondisi-kondisi seperti berikut ini: (1) Sistem ekonomi uang, buruh upahan dan sistem produksi untuk keberuntungan, (2) Tetap tingginya tingkat pengangguran dan setengah pengangguran bagi tenaga tak terampil, (3) Rendahnya upah buruh, (4) Tak berhasilnya golongan berpenghasilan rendah meningkatkan organisasi sosial, ekonomi dan politiknya secara sukarela maupun atas prakarsa pemerintah, (5) Sistem keluarga bilateral lebih menonjol daripada sistem unilateral; dan akhirnya (6) Kuatnya seperangkat nilai-nilai pada kelas yang berkuasa yang menekankan penumpukan harta kekayaan dan adanya kemungkinan mobilitas vertikal, dan sikap hemat, serta adanya anggapan bahwa rendahnya status ekonomi sebagai hasil ketidaksanggupan pribadi atau memang pada dasarnya sudah rendah kedudukannya.[6]
Dari pandangan ini terlihat bahwa kemiskinan yang terjadi di masyarakat bukan semata-mata karena hal ekonomi saja, melainkan adanya kekurangan di bidang kebudayaan dan di kejiwaan seseorang sehingga membentuk budaya yang diturunkan dari generasi ke generasi lainnya melalui proses sosialisasi. Cara hidup seperti di atas inilah yang disebut Oscar Lewis dengan kebudayaan kemiskinan
Dengan konsep cultural of poverty atau lebih tepat disebut subculture of poverty, Lewis berpendapat bahwa kemiskinan adalah suatu budaya yang berlangsung lama dari satu generasi ke generasi berikutnya sehingga menjadi terbiasa terhadap cara hidup miskin. Kemiskinan menunjuk pada adanya suatu cara hidup yang secara bersama dialami dan dilakukan oleh orang-orang miskin dalam suatu konteks sejarah dan sosial tertentu. Lewis hendak menjelaskan bahwa ada seperangkat nilai yang dianut oleh komunitas di mana saja yang menyebabkan komunitas itu sulit keluar dari lingaran kebudayaan kemiskinan.
Kebudayaan kemiskinan didefinisikan sebagai pola-pola kebudayaan yang membuat orang tetap dalam keadaan miskin. Sekali kebudayaan kemiskinan terjadi, itu akan cenderung ada terus-menerus yang diturunkan kepada keturunannya. Para anak-anak mereka menyerap sikap dasar dan nilai-nilai yang sudah tertanam tersebut sehingga secara psikologi tidak siap untuk mengambil kesempatan yang mungkin bisa dikembangkan dalam hidup mereka dan tingkat kepekaan dalam menangkap peluang, wawasan, etos kerja, dan sebagainya menjadi rendah. Lewis mengatakan bahwa kemiskinan dipertahankan karena adanya kebudayaan kemiskinan. Dapat disimpulkan bahwa menurut Lewis, kemiskinan merupakan kebudayaan atau sebuah cara hidup yang pada dasarnya diperoleh melalui proses belajar dan sifatnya selalu diwariskan kepada generasi selanjutnya. Artinya, ada suatu setting sosio-historis tertentu dari realitas masyarakat tersbeut yang kemudian mengonstruksi pola atau cara hidup sebuah komunitas menajdi berkebudayaan kemiskinan.[7]
4.      Perangkap Kemiskinan menurut Robert Chambers
Kemiskinan dan perangkap kemiskinan merupakan dua konsep yang disamaartikan. Tetapi pada dasarnya konsep kemiskinan dan perangkap kemiskinan merupakan dua konsep yang berbeda satu sama lain. Perangkap kemiskinan merupakan konsep yang sangat kompleks jika dibandingkan dengan kemiskinan. Kemiskiann adalah satu dimensi dari perangkap kemiskinan. Chambers menerangkan bahwa kemiskinan adalah suatu kesatuan konsep (integrated concept) yang memiliki lima dimensi, yaitu kemiskinan itu sendiri, kelemahan jasmani, derajat isolasi, kerentanan, dan ketidakberdayaan.
Dari kelima dimensi diatas, kerentanan dan ketidakberdayaan perlu mendapat perhatian yang utama. Krentanan, menrut Chambers dapat dilihat dari ketidakmampuan keluarga miskin untuk menyediakan sesuatu guna menghadapi situasi darurat seperti datangnya bencana alam, kegagalan panen, atau penyakit yang tiba-tiba menimpa keluarga miskin itu. Kerentanan ini sering menimbulkan poverty rackets atau “roda penggerak kemiskinan” yang menyebabkan keluarga miskin harus menjual harta benda dan asset produksinya sehingga mereka menjadi semakin rentan dan tidak berdaya.
Ketidakberdayaan mendorong proses kemiskinan dalam berbagai bentuk, antara lain yang terpenting, adalah pemerasan oleh kaum yang lebih kuat. Orang yang tidak berdaya seringkali terbatas atau tidak mempunyai akses terhadap bantuan pemerintah, setidak-tidaknya terhalang atau terhambat memperoleh bantuan hukum, serta membatasi kemampuannya untuk menuntut upah yang layak atua menolak suku bunga; menempatkan dirinya pada pihak yang dirugikan dalam setiap transaksi jaul beli, dan mereka tidak mempunyai pengaruh apa-apa terhadap pemerintah dalam mengambil keputusan. Faktor ini mendorong kelemahan jasmani, karena waktu dan tenaga dicurahkan untuk memperoleh akses, karena tenaga dicurahkan untuk memenuhi kewajiban terhadap majikan, sehingga mengurangi waktu dan tenaga untuk pekerjaan rumah tangga dan pekerjaan lain. Isolasi juga berkaitan dengan ketidakberdayaan melalui ketidakmampuan mereka menarik bantuan pemerintah, sekolah atau petugas lapangan dan sumberdaya lainnya. Orang tidak berdaya juga membuat orang miskin lebih rentan terhadap tuntutan untuk membayar utang, terhadap ancaman hukuman atau denda, atau terhadap penyalahgunaan wewenang yang merugikan.
Isolasi terhadap pelayanan public ini terjadi karena tidak berpendidikan, tempat tinggal yang jauh terpencil atau jangkauan komunikasi, yang menopang kemiskinan: pelayanan dan bantuan pemerintah tidak sampai menjangkau mereka. Isolasi bergandengan dnegan kelemahan jasmani; rumah tangga yang hidup jauh terpencil mungkin ditinggal pergi oleh anggota keluarga dewasa untuk mencari kerja ke kota atau desa lain.[8]
Robert Chambers juga menegaskan bahwa faktor penyebab terjadinya kemiskinan adalah lilitan kemiskinan hilangnya hak atau kekayaan yang sukar untuk kembali, mungkin disebabkan desakan kebutuhan yang melampaui ambang batas kekuatannya, misalnya pengeluaran yang sudah diperhitungkan sebelumnya, namun jumlahnya sangat besar, atau tiba-tiba dihadapkan pada krisis yang hebat. Umumnya kebutuhan yang mendorong seseorang yang terlilit kemiskinan, berkaitan dengan lima hal; kewajiban adat; musibah; ketidakmampuan fisik; pengeluaran tidak produktif dan pemerasan. Dan uraian tersebut menunjukkan bahwa faktor penyebab terjadinya kemiskinan adalah adanya faktor internal berupa kebutuhan yang segera harus terpenuhi namun tidak memilliki kemampuan yang cukup dalam berusaha mengelola sumber daya yang dimiliki (keterampilan tidak memadai, tingkat pendidikan yang minim dan lain-lain). Faktor eksternal berupa alam seperti halnya krisis ekonomi ini, serta tidak adanya pemihakan berupa kebijakan yang memberikan kesempatan dan peluang bagi masyarakat miskin.[9]



Skema 1
Perangkap Kemiskinan
Sumber: Robert Chambers[10]
5.      Perspektif Konflik melihat Kemiskinan
Teori konflik sebenarnya berada dalam satu naungan paradigm dengan teori fungsionalisme structural. Teori structural menilai bahwa fakta atau realita sosial adlaah fungsional. Sementara, teori konflik menyoroti bahwa fakta sosial berupa wewenang dan posisi justru merupakan su,ber pertentangan sosial. Wewenang dan posisi merupakan konsep sentral dari teori konflik. Menurut teori ini, ketidakmerataan distribusi dan wewenang otomatis akan menempatkan masyarakat pada posisi saling berbeda. Perbedaan posisi itu dapat  memicu timbulnya konflik dalam masyarakat. Dalam tekanan structural kemiskinan  terjadi sebagai akibat ketidakberdayaan seseorang atau kelompok masyarakat terhadap sistem atau tatanan sosial yang tidak adil sehingga mereka tidak memiliki akses untuk mengembangkan dan membebaskan diri dari perangkap kemiskinan
Dalam teori konflik dapat membedakan golongan yang terlibat menjadi dua tipe yakni kelompok semu dan kelompok kepentingan. Kelompok semu sebenarnyaya mempunyai kepentingan yang sama sedangkan kelompok kepentingan terbentuk dari kelompok semu yang pada umumnya mempunyai struktur,organisasi, program, tujuan serta keanggotaannya jelas. Adanya kedua tipe kelompok ini  sebenarnya juga berkaitan dengan dua sifat kepentingan yang disebut kepentingan laten atau kepentingan manifes (Poloma,1987:138). Kepentingan laten adalah kepentingan yang sebetulnya melekat pada diri seseorang karena menduduki posisi tertentu, akan tetapi belum disadari.
Menurut Lewis A Coser konflik dapat bersifat fungsional secara positif apabila berdampak memperkuat kelompok  sebaliknya bersifat negatif apabila bergerak melawan struktur. Sebagai upaya mempertemukan kedua teori ini Piere Van den Berghe beranggapan bahwa konflik dapat memberikan sumbangan terhadap integrasi dan sebaliknya integrasi dapat pula melahirkan konflik. Dalam hubungan ini dikatakan adanya empat fungsi dari konflik :
1.      Sebagai alat untuk memelihara solidaritas
2.      Membantu menciptakan ikatan aliansi dengan kelompok lain
3.      Mengaktifkan peran individu yang semula terisolasi
4.      Mempunyai fungsi komunikasi[11]
Kemiskinan, berdasarkan perspektif teori konflik, maka ia sebagai kelompok tertindas harus berjuang merebut hak-haknya, dengan cara bersatu dan menjadi kelompok pejuang melawan sistem yang merugikan sehingga ia menjadi kelompok baru yang diperhitungkan.
Penelitian ini memiliki kesamaan maupun perbedaan dengan penelitian yang dilakukan Khuliy. Adapun persamaannya dalam hal topic penelitian dan metode yang digunakan, yaitu sama-sama meneliti mengenai kemiskinan dengan metode penelitian deskriptif kualitatif. Sedangkan perbedaannya di bagian subyek penelitiannya, dan teori yang digunakan. Pada penelitian terdahulu subyek penelitiannya adalah perempuan miskin yang berprofesi sebagai buruh bangunan. Dengan kajian membahas kehidupan perempuan dalam menjalani pekerjaan sebagai buruh bangunan dan pandangan masyarakat sekitar mengenai profesi buruh perempuan tersebut. Serta teori yang digunakan adalah teori Tindakan Sosial (Max Weber) dan Feminisme Marxis (Karl Marx). Sedangkan pada penelitian ini subyek penelitiannya adalah keluarga-keluarga miskin yang tinggal di Kampung Cigintung Desa Sukajaya Kecamatan Jonggol Bogor, baik penduduk asli Bogor maupun para pendatang. Kajianya membahas tentang masalah-masalah kemiskinan yang dialami warga miskin di Desa Sukajaya, khususnya Kampung Cigintung dalam berbagai aspek, antara lain masalah pendidikan, infrastruktur, kesehatan, pola hidup, dan juga perekonomiannya. Serta menggunakan teori Kebudayaan Kemiskinan (Lewis Oscar) dan Perangkap Kemiskinan Robert Chambers) untuk menganalisis datanya. Penelitian ini juga mengacu pada konsep Kemiskinan (Suparlan) dan perspektif konflik dalam melihat kemiskinan.

METODELOGI PENELITIAN
Secara garis besar tulisan ini tersusun oleh beberapa bagian dengan sistematika penulisan sebagai berikut. Pertama, terdapat pengantar yang berisikan latar belakang masalah penelitian. Kedua, menjelaskan tentang profil dan kondisidesa yang dijadikan sebagai lokasi penelitian, yaitu Kampung Cigintung, Desa Sukajaya, Kecamatan Jonggol, Bogor. Ketiga, menjelaskan tentang faktor penyebab kemiskinan di desa tersebut. Keempat, menjelaskan tentang faktor yang menghambat desa tersebut dalam mengatasi kemiskinan. Kelima, menjelaskan bagaimana dampak kemiskinan bagi desa tersebut. Keenam, di bagian penutup disajikan sebuah kesimpulan dari keseluruhan isi tulisan beserta saran.
Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif, yaitu penelitian yang menghasilkan data deskriptif yang berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang dan perilaku yang dapat diamati, peristiwa-peristiwa dan pengetahuan. Peneliti harus mampu mengungkapkan gejala sosial yang terjadi di masyarakat. Dengan demikian, peneliti harus mampu membangun relasi dengan narasumber atau informan untuk mendapatkan data objektif yang akan digunakan untuk menjelaskan permasalahan. Peneliti harus bersikap netral atau tidak memihak pada siapapun dalam membahas data yang peneliti temukan di lokasi penelitian.Penelitian ini mengambil lokasi di Kampung Cigintung, Desa Sukajaya, Kecamatan Jonggol, Bogor. Desa tersebut dipilih karena menjadi salah satu desa termiskin di Bogor dan menjadi yang termiskin di kecamatan Jonggol. Kampung Cigintung juga merupakan kampung paling terisolir di Kecamatan Jonggol.Penelitian ini dilakukan selama dua kali, dimulai tanggal 10 November 2017 berangkat pukul 09.00 dan pulang pukul 15.00 yang kedua pada tanggal 18 November 2017 berangkat pukul 08.30 dan pulang pukul 17.30. Sumber data dari penelitian ini terdiri dari dua, yaitu PertamaData Primer yang diperoleh langsung dari narasumber dengan mengajukan pertanyaan langsung melalui wawancara yang mendasar maupun mendalam. Kedua Data Sekunder, yaitu data yang diperoleh dari berbagai catatan, dokumentasi, data-data yang ada di lokasi penelitian, yaituKampung Cigintung, Desa Sukajaya, Kecamatan Jonggol, Bogor.
Dalam pelaksanaan penelitian dilakukan pemilihan informan dengan menggunakan (puposive sampling) yang dipilih secara sengaja berdasarkan kriteria tertentu. Dari keseluruhan penduduk Kampung Cigintung Desa Sukajaya, dipilih infoman pertama yaitu Kepala Desa Sukajaya yang memberikan informasi awal secara singkat dan padat sebagai indikator peneliti melakukan penelitian di Kampung Cigintung, kemudian informan kedua yaitu Ketua Linmas dan Ketua RT Kampung Cigintung sebagai pemberi informasi dalam memberikan gambaran kepada peneliti, selanjutnya informan utama yakni penduduk Kampung Cigintung Sukajaya yang mengalami kemiskinan dan berprofesi sebagai petani yang mampu memberikan infomrasi akurat dalam penelitian.

TEMUAN DAN PEMBAHASAN
Profil Desa 
Desa Sukajaya merupakan desa yang berada di wilayah Kecamatan Jonggol Kabupaten Bogor. Desa Sukajaya dikepalai oleh bapak Ujang Royani. Desa Sukajaya termasuk ke dalam klasifikasi desa swadaya, kategori desa madya dan memiliki tipologi persawahan.  Desa Sukajaya memiliki luas sebesar 1.182Ha dan desa tersebut memiliki sawah dengan luas 250 Ha yang pada umumnya ditanam. Desa Sukajaya terletak 1.500 Mdpl, dengan tinggi curah hujan 2.000 M3, terbagi dalam 2 dusun, 5 RW serta 15 RT. Posyandu terdapat 9 lokasi yang tersebar di 15 RT dalam 2 Dusun. Jumlah penduduk di Desa Sukajaya sebanyak 6220 jiwa dan kepadatan penduduk sebesar 5262/5,26 jiwa/km. Mata pencaharian masyarakat pada umumnya adalah sebagai petani, dengan tingkat pendidikan rata-rata lulus SD/Sederajat
Dalam Desa Sukajaya terdapat Kampung bernam Kampung Cigintung.Kampung Cigintung juga merupakan desa paling terisolir di Desa Sukajaya. Untuk menuju Kampung Cigintung harus dengan berjalan kaki selama kurang lebih dua jam. Akses menuju Kampung Cigintung masih berupa tanah dan batuan tidak memungkin untuk menggunakan kendaraan. Kampung Cigintung tepatnya berada di RT 04 RW 02.RT yang menjabat di Kampung Cigintung bernama Pak Yadi.



Letak Geografis Kampung Cigintung Desa Sukajaya
Jarak Kantor Desa ke Ibu Kota Kecamatan, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat dan Ibu Kota Negara adalah sebagai berikut :
  1. Ibu Kota Kecamatan Jonggol 13 Km
  2. Ibu Kota Kabupaten Bogor 66 Km
  3. Ibu Kota Provinsi Jawa Barat 127 Km
  4. Ibu Kota Negara 46 Km
Gambar 1
Peta Lokasi Desa Sukajaya

Desa Sukajya berbatasan langsung dengan Desa Sukanegara di sebelah utara, Desa Sukamakmur di sebelah selatan, Desa Sukaresmi di sebelah timur, dan Desa Pabuaran yang berada di sebelah barat. [13]










Gambar 2
Peta Persebaran Wilayah Desa Sukajaya


Sumber: Dokumentasi Pribadi
Kondisi Demografi
Keadaan demografi menjadi salah satu menunjang dalam memajukan suatu daerah, serta mempengaruhi pembangunan social dan ekonomi suatu daerah dalam proses mobilitas social masyarakat. Faktor penduduk menjadi salah satu, tak hanya itu dari segi SDA juga mempengaruhi. Jika di suatu daerah tidak memiliki keahlian dalam mengolah SDA maka dapat menghambat kemajuan perekonomian daerah tersebut. Dengan demikian diperlukan keahlian seperti berkebun, bertani dan sebagainya. Keadaan demografi Desa Sukajaya, Kecamatan Jonggol, Kabupaten Bogor sebagai berikut :
a.      Kependudukan
Kondisi Demografi merupakan salah satu faktor yang penting dalam pelaksanaan pembangunan sosial ekonomi yang mempengaruhi proses mobilitas sosial masyarakat. Faktor kependudukan merupakan faktor yang paling utama karena pembangunan adalah suatu upaya manusia untuk merubah pola hi hidup dan posisi sosial mereka untuk tetap memenuhi kebutuhan hidup. Sumber daya manusia merupakan salah satu modal dalam pemabangunan, selain sumber daya alam. Namun yang perlu diketahui bahwa pertumbuhan penduduk yang tidak terkendali dalam proses perubahan sosial juga mempengaruhi. Sebagai contoh lambatnya mobilitas sosial karena distribusi dalam berbagai aspek tidak merata. Jumlah Penduduk di Kampung Cigintung sendiri hanya ada 195 orang dengan 55 Kepala keluarga dan di Desa Sukajaya terdiri dari 3.088 laki-laki dan 3.132 perempuan.

b.      Pendidikan
Seiring berkembangnya zaman serta kemajuan teknologi yang tiada hentinya berinovasi setiap saat, masih banyak sisi kelam yang terjadi di Indonesia. Layaknya, pendidikan di Indonesia yang tidak mendapatkan solusi yang tepat dalam menyelesaikan permasalahan yang terbilang extrim didalam pendidikan. Baik dari segi mutu kualitas dan kuantitas pendidikan, dari segi infrastruktur, biaya serta pengajaran. Biaya pendidikan yang tak dapat dijangkau oleh semua kalangan masyarakat, harga perlengkapan sekolah yang semakin hari semakin naik terutama saat akhir dan awal semester sekolah.
Sangat miris melihat para petinggi Negara yang tidak memberi perhatian lebih baik dari segi bantuan, motivasi, dan sebagainya bagi penerus bangsa terutama anak-anak di Desa Sukajaya yang sangat prihatin kondisinya. Baik dari segi akses menuju sekolah, biaya, gizi dan sebagainya. Lokasi Desa yang tidak jauh dari kota, akan tetapi jauh dari ulur tangan Pemerintah. Sehingga menyebabkan banyaknya pernikahan usia muda yang terjadi serta tak asing lagi di Desa tersebut demikian juga di Kampung Cigintung Sukajaya hal yang serupa yang dialami oleh masyarakat maupun anak-anak.
Akses menuju sekolah yang jaraknya sangat amat jauh, bahkan anak-anak di Desa Sukajaya dan Kampung Cigintung Sukajaya terkadang merasakan lelah karena akses yang dilalui sangat amat jauh bagi usia mereka. Kendaraan yang tidak dapat memasuki kawasan dikarenakan lajur jalan yang tidak memadai dan sangat berbahaya bagi pengendara motordikarenakan banyaknya bebatuan serta tanjakan yang licin terutama disaat hujan. Jalan yang tidak beraspal, melainkan tanah dan lumpur.
Di Desa Sukajaya pun sangat minim Sekolah Menengah Atas, terutama di Kampung Cigintung sangat amat minim pendidikan. Anak-anak tersebut dapat bersekolah di desa lain untuk melanjutkan tingkatan sekolah mereka. Hanya terdapat beberapa sekolah saja di Desa Sukajaya, seperti hasil wawanca yang didapatkan oleh informan Bapak Ujang di Desa Sukajaya, SDN Sodong 1 dan 2, swasta MI Almuqmin, MI Nurul Amal dan SMP Mutiara Kencana, SMP AL Muqmin, dan SMP Mualamah. Selain itu, bantuan Kartu Indonesia Pintar dan BPJS yang tidak merata.


c.       Pemerintahan
Dalam Lembaga pemerintahan di Desa Sukajaya terdapat :
1. Kepala Desa Sukajaya
2. Danton, Pak Dinta
3. 5 RW dan 15 RT
4. 2 Kadus
5. RT 04 RW 02, Ketua RT Pak Yadi (Kampung Cigintung)
Gambar 3
Foto Bersama Bapak Kepala Desa Sukajaya

Sumber: Dokumentasi Pribadi
d.      Sosial
Desa Sukajaya hanya memiliki 2 SD dan 4 SMP, untuk mengenyam pendidikan Menengah Atas harus berpindah ke desa lainnya karena jumlah sekolah yang sangat amat minim, dapat dikatakan bahwa Desa Sukajaya belum mampu meningkatkan pendidikan yang ada di Desa tersebut. Seharusnya semua anak-anak dapat merasakan pendidikan yang layak, akan tetapi kurangnya pemerataan biaya maupun aspek lainnya dari Pemerintah. Seperti yang dirasakan oleh Ibu Sampur yang memiliki 2 orang anak, 1 diantaranya masih bersekolah dan 1 lagi tidak., Ibu Sampur sangat ingin menyekolahkan anaknya akan tetapi dari segi ekonomi yang tidak dapat memenuhi kebutuhan sekolah anaknya seperti membeli buku, alat tulis, seragam, uang jajan dan sebagainya.

Berikut pernyataan dari Ibu Sampur :
“Anak saya 2, 1 sekolah. Saya sendiri tidak dapat kartu bantuan, berobat pun bayar. Sekolah sih gratis, tapi untuk beli keperluan anak kan juga butuh uang, penghasilan bapak juga gak cukup. Saya tamatan SMA, nikah pas usia 17tahun. Udah mengajukan kartu bantuan tapi ditolak. Kadang-kadang anak ngeluh, kalau gak ada duit gk mau sekolah harus dipaksa dulu, uang jajan 3000 atau 5000 kadang-kadang. Yang sekarang mah ayah tiri, yang ini yatim. Kadang-kadang nemenin anak belajar, disini kebanyakan SMP tergantung modal sama uangnya juga mbak. Iya, kebun punya orangtua, sayamah ibu rumah tangga rata-rata disini ibu rumah tangga gak ada kegiatan lain. Saya gak ada wc, mau buat tapi gak ada uangnya mbak kalau soal air mah air selalu ada. Saya juga gak pake tv, paling ngobrol-ngobrol aja sama yang lain.”[14]
Dilihat juga dari segi penghasilan keluarga beliau, dimana suaminya hanya bekerja sebagai buruh yang hanya mendapatkan penghasilan pas-pasan untuk makan sehari-hari, dan demikian pula yang dirasakan oleh informan yaitu Mbak Dewi (21tahun) yang menikah di usia 20tahun dan belum memiliki anak. Hampir semua permasalahan yang dirasakan ialah kurangnya perhatian pemerintah dalam pendidikan, infrastruktur desa, sanitasi serta akses jalan.
Berikut pernyataan dari Mbak Dewi :
“Suami kerja dipabrik Bekasi, tergantung kadang pulang seminggu sekali. Saya kalau mandi kalau apa gitu ke sungai, anak-anak disini mah udah biasa jadi gak gatel-gatel udah kesehariaan juga. Saya tamatan paket C SMA. Maunya sih ada teman main anak, tanah disini mah subur. Saya 3 bersaudara, 2 SD aja gak tamat, gak pada mau sekolah udah pada nikah juga sih. Pemilihan kades dan kadus dipilih warga, suka janji-janji juga tapi kenyataanya gak ada. Dari dulu gini-gini aja gak ada perubahan. Ke pasar jauh, tiap hari pasar mah. Pengennya desa nya maju gak gini-gini aja. Disini nanem pisang, ada yang dikirim ke pasar dibikin keripik.”[15]
e.       Pertanian
Desa Sukajaya merupakan desa yang aktiv di sector pertanian. Hampir secara keselurahan para masyarakat bekerja sebagai petani padi memiliki 2,500,000 ha luas sawah. Hanya orang-orang yang lulusan SMA saja yang bekerja menjadi buruh pabrik. Akan tetapi selain di bidang pertanian, masyarakat juga bekerja sebagai peternak ayam dan memanfaatkan perkebunan sebagai bahan pokok kebutuhan seperti adanya daun singkong yang diolah menjadi sayur untuk dimakan sehari-hari.
Gambar 4
Buruh Tani Desa Kampung Cigintung

Sumber: Dokumentasi Pribadi

Faktor Penyebab Kemiskinan
1.      Penghasilan Rendah
Penghasilan rendah disebabkan oleh masyarakat yang kurang memanfaatkan SDA serta tidak adanya polda dukung dari pemerintah baik dari segi prasarana serta transportasi yang tidak tersedia untuk menuju akses lainnya seperti ke desa sebelah maupun ke luar desa. Serta disebabkan banyaknya masyarakat yang hanya lulusan dari SD dan SMP saja.
Sementara itu Robert Chambers menegaskan factor penyebab terjadinya kemisikinan adalah : Lilitan kemiskinan hilangnya hak atau kekayaan yang sukar untuk kembali, mungkin disebabkan desakan kebutuhan yang melampaui ambang batas kekuatannya.[16] Bahwa penyebab kemiskinan ialah factor internal dan eksternal. Faktor internal ialah keahlian dan sebagainya. Sedangkan factor eksternal ialah bencana alam. Jika terjadi hujan deras maka mengganggu aktivitas masyarakat seperti pertanian, menunda waktu panen dan sebagainya.

2.      Pola Hidup
Penghasilan dari buruh tani yang rendah ini mempengaruhi pola hidup masyarakat kampung Cigintung. Dari penghasilan buruh tani yang rendah ini masyarakat memiliki gaya hidup yang sangat sederhana. Seperti, Berpakaian dengan sederhana dan apa adanya serta jarang memakai alas kaki.
Gambar 5
Wawancara Informan di Rumah Warga

Sumber: Dokumentasi Pribadi
“keluarga saya kalau ada rejeki lebih aja bisa membeli pakaian baru di hari raya, itu sudah bersyukur banget. Ya kalau pas-pasan mungkin hanya membeli daging ayam saja”[17]
Tidak seperti masyarakat perkotaan yang setiap kali hari raya lebaran membeli pakaian baru. Masyarakat kampung Cigintung tidak seperti itu, masyarakat disini lebih memilih untuk membeli daging dibandingkan dengan membeli pakaian baru di hari raya. Masyarakat kampung Cigintung ketika datangnya hari raya, mereka lebih sering berkumpul dengan keluarga di kampung Cigintung. Berkumpul dengan keluarga sambil menikmati hidangan yang seadanya sudah membuat masyarakat kampung Cigintung merasakan kebahagiaannya.
Pola makanan sehari-hari dari masyarakat Kampung Cigintung sangat sederhana. Masyarakat kampung Cigintung lebih senang memanfaatkan hasil alam di kampungnya mereka sendiri, seperti sayuran daun singkong dan kangkung yang ada disekitaran rumah masyarakat Kampung Cigintung. Sayur mayor yang ada di sekitaran rumah masyarakat Kampung Cigintung merupakan milik bersama masyarakat. Masyarakat kampung Cigintung tinggal memetik sayur tersebut lalu di masak dan rata-rata dijadikan makanan sehari-hari mereka. Adapun tukang sayuran dan daging keliling yang melewati kampung Cigintung, namun masyarakat disini jarang membeli sayur dan daging dari penjual keliling itu, mereka berpikir ulang untuk membeli sayur dan daging dari penjual keliling karena dengan pendapatan sehari yang terbatas membuat masyarakat disini jarang membeli sayur dan daging dari penjual keliling tersebut.
“atuh kalo disini paling makannya daun singkong kalo ga kangkung, jarang-jarang neng makan daging mah. Kalo daun singkong ama kangkung kan saya juga ngambil dari kebon di belakang, tinggal ambil terus di rebus.[18]
3.      Infrastruktur
Infrastruktur di Kampung Cigintung ini sangat dibawah rata-rata perkampungan disekitarnya. Jalan menuju kampung Cigintung ini sangat susah dijangkau oleh kendaraan roda dua dan kendaraan roda empat. Jalan menuju kampung Cigintung hanya bebatuan dan tanah liat. Jika mana musim hujan, maka jalan ini penuh lumpur dan akan susah dilewati oleh masyarakat yang akan menuju ke Kampung Cigintung.
Gambar 6
Kondisi Jalan Menuju Kampung Cigintung

Sumber: Dokumentasi Pribadi
“Ya emang jalan kalo pengen kesini susah, jalan seadanya. Jalannya cuman ada batu sama tanah, ya kalo hujan becek disini, licin. Kendaraan susah buat naek keatas sini. Apalagi kalo ada anggota masyarakat yang sudah sakit, akses menuju ke puskesmas susah apalagi ke rumah sakit yang sangat jauh dan membutuhkan banyak waktu untuk sampai kesana.[19]
Jalan yang kurang memadai ini membuat kendaraan bak terbuka yang mengambil hasil panen petani menjadi terhambat jika musim hujan, dikarenakan jalan yang licin dan dapat membahayakan. Jika sudah begini, ekonomi masyarakat kampung Cigintung bisa terhambat dan masyarakat kampung Cigintung tidak mendapatkan penghasilan untuk beberapa hari. Selain dapat menghambat untuk mendapatkan hasil panen, akses jalan yang sulit juga dapat menghambat keadaan darurat jika mana ada anggota masyarakat kampung Cigintung yang sedang sakit dan membutuhkan pertolongan dari pihak pukesmas atau rumah sakit. Akses menuju ke puskesmas dan ke rumah sakit terdekat terhambat oleh akses jalan yang sulit.
Faktor Penghambat Mengatasi Kemiskinan
Masyarakat kampung Cigintung dikatakan miskin karena memiliki keterbatasan untuk mengakses jaringan dan struktur sosial yang mendukung dalam mendapatkan kesempatan-kesempatan peningkatan produktivitas. Masyarakat kampung Cigintung mempunyai faktor-faktor penghambat, yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor internal berasal dari setiap individu masyarakat, seperti contoh pendidikan yang rendah, dalam hal ini masyarakat kampung Cigintung rata-rata hanya tamatan Sekolah Dasar. Sedangkan faktor eksternal yaitu dari luar, seperti contoh pemerintah kurang memberdayakan masyarakat Cigintung, contohnya memberdayakan teknologi dan informasi.
            Sama seperti teori faktor penyebab kemiskinan yang dikemukakan oleh Robert Chambers. Yaitu,faktor penyebab terjadinya kemiskinan adalah adanya  faktor internal berupa kebutuhan yang segera harus terpenuhi namun tidak memiliki kemampuan yang cukup dalam berusaha mengelola sumber daya yang dimiliki. Faktor eksternal berupa bencana alam seperti halnya krisis ekonomi ini, serta tidak adanya kebijakan yang memberikan kesempatan dan peluang bagi masyarakat miskin[20]
Peran dan Pemberdayaan dari pemerintah kurang maksimal, yang membuat faktor penghambat mengatasi kemiskinan.
a.       Peran Pemerintah
Masyarakat kampung Cigintung merasakan bantuan pemerintah tidak merata dan tidak maksimal. Seperti dalam sektor infrastruktur, akses jalan menuju kampung Cigintung sangat sulit dan belum ada bantuan dari pemerintah mengenai jalan yang sangat tidak layak ini. Selain dari sektor infrastruktur, sektor pendidikan juga kurang mendapat perhatian dari pemerintah. Pasalnya, untuk menempuh pendidikan sangatlah jauh dari kampung Cigintung. Perjalanan ke sekolah dasar dari kampung Cigintung itu sekitar 2 jam, dengan akses jalan yang sulit dan anak-anak masyarakat kampung Cigintung tidak menggunakan kendaraan untuk menuju ke sekolah.
            Peran pemerintah yang tidak merata dan maksimal dalam sektor infrastruktur dan pendidikan ini menghambat mengatas kemiskinan. Karena dengan pendidikan yang rendah membuat masyarakat kurang terbuka terhadap dunia luar. Serta akses jalan menuju ke kampung Cigintung yang sulit membuat masyarakat luar yang ingin mampir atau sekedar ingin memberi bantuan kesusahan karena akses jalan yang kurang memadai.
b.      Pemberdayaan
            Kurangnya peranan pemerintah dalam memberdayakan masyarakat kampung Cigintung merupakan salah satu faktor penghambat mengatasi kemiskinan. Pemerintah jarang turun langsung ke kampung Cigintung untuk memberdayakan masyarakat. Program bantuan penguasaan teknologi belum ada, hal ini membuat masyarakat kampung Cigintung tidak bisa membuka wawasan yang luas. Selain itu, pemberdayaan wanita di masyarakat kampung Cigintung juga tidak ada, wanita disini tugasnya hanya menjaga rumah, mengurus anak-anak serta mengurus urusan dapur.
Gambar 7
Dapur Warga


Sumber: Dokumentasi Pribadi
Dampak Kemiskinan
Kemiskinan menurut Sayogyo merupakan suatu tingkat kehidupan yang berada dibawah standar kebutuhan orang cukup bekerja dan cukup hidup sehat berdasarkan atas kebutuhan beras dan kebutuhan gizi[21]. Fenomena kemiskinan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat yang kurang beruntung membawa sebuah dampak terhadap masyarakat yang menyerang baik berupa non material dan material, seperti tempat tinggal dibawah standar, kekurangan gizi, kualitas hidup rendah, pendidikan rendah, dan sebagainya. Kemiskinan yang terjadi di pedesaan maupun di perkotaan merupakan sebuah fenomena yang terjadi karena terdapat sebab-sebab yang menjadi faktor penyebab terjadinya kemiskinan. Dengan adanya dampak dari kemiskinan masyarakat mengalami kerentanan hidup yang dapat dikaitkan melalui teori Chambers, yakni kerentanan dapat dilihat atas ketidakmampuan keluarga miskin dalam menyediakan sesuatu guna menghadapi situasi hidup darurat, seperti datangnya bencana alam, gagalnya panen, atau penyakit yang dapat menimpa keluarga miskin[22]. Dengan itu, dampak kemiskinan terhadap masyarakat memberikan pengaruh terhadap standar hidup yang rendah yakni adanya kekurangan materi dan pengaruh secara langsung terhadap kondisi kehidupan, seperti keadaan kesehatan, kehidupan moral, dan rasa harga diri dari mereka yang tergolong orang miskin[23]. Hal tersebut juga terkait dengan permasalahan hadirnya dampak kemiskinan yang dialami masyarakat Kampung Cigintung Desa Sukajaya, seperti permasalahan sebagai berikut.

Skema 2
Fenomena Kemiskinan

a.       Tempat Tinggal dibawah Standar
Tempat tinggal merupakan suatu hal yang penting dalam kenyamanan hidup manusia. Dengan adanya tempat tinggal yang layak, bersih, serta aman dapat memberikan kesejahteraan hidup. Namun hal tersebut tidak dapat dirasakan oleh penduduk Kampung Cigintung yang kurang beruntung, karena kemiskinan yang mereka rasakan memberikan kesulitan dalam memenuhi kebutuhan hidup yang terutama dalam pemenuhan kebutuhan papan yakni tempat tinggal yang layak. Suatu tempat tinggal dapat dikatakan layak bukan hanya dilihat dari sudut pandang bentuk dan harga suatu rumah, namun kelayakan dapat diukur dari kebersihan dan keamanan tempat tinggal dan lingkungannya. Nyatanya lingkungan tempat tinggal penduduk Kampung Cigintung dapat dikategorikan sebagai lingkungan yang kurang bersih bukan karena persoalan budaya kotor yang sengaja diciptakan penduduk sekitar tetapi keadaan yang menuntut terjadinya hal tersebut, seperti tidak terdapatnya pembuangan sampah umum sehingga penduduk membuang sampah secara sembarangan atau sebagian ada yang membakar sampah tersebut, rumah atau tempat tinggal penduduk setara dengan jalanan yang masih berupa tanah merah lalu apabila hujan datang mengotori pula rumah mereka, juga tidur diatas tanah tersebut hanya beralaskan sehelai alas. Dan yang terpenting yaitu permasalahan sanitasi yang mereka alami sangatlah memprihatinkan, penduduk sekitar tidak memiliki kamar mandi dirumah mereka masing-masing sehingga dibangunlah beberapa MCK umum yang belum bisa dikatakan sebagai MCK yang layak karena hanya terbuat dari beberapa kayu yang dilapisi kain dan karung sebagai pintunya serta tanpa adanya atap dan saluran pembuangan yang benar. Hal tersebut merupakan hal yang buruk bagi masyarakat secra umum tetapi menjadi hal yang biasa oleh penduduk Kampung Cigintung. Seperti apa yang dikatakan salah seorang informan.
“ ya kalau mandi di sungai kalo ga di itu kamar mandi umum walaupun begitu memang keadaannya tapi ya sudah biasa jadi yaudah ga malu kalo mandi, buang air kecil dsitu kelihatan orang. Disini juga ga ada yang jahil semuanya keluraga”.[24]







Gambar 8
Keadaan MCK Umum Kampung Cigintung
Sumber : Dokumentasi Pribadi
b.      Pendidikan Rendah
Pada umumnya pendidikan merupakan sebuah kebutuhan yang penting dalam merancang masa depan kehidupan manusia. Namun sebagian besar keadaan sosial ekonomi masyarakat tergolong tidak mampu, dengan kata lain dapat dikatakan miskin seperti yang dialami penduduk Kampung Cigintung. Seperti yang diketahui, dalam sekolah swasta ataupun negeri saat ini yang telah dibantu gratis oleh pemerintah tetap memerlukan biaya lainnya seperti seragam sekolah, uang transportasi, uang makan atau jajan, dan lainnya. Sedangkan, yang kita ketahui penduduk Kampung Cigintung memiliki penghasilan dibawah rata-rata yang hanya dapat mencukupi kebutuhan pangan mereka dengan menu sederhana serta kebutuhan hidup lainnya dalam sehari-hari. Tetapi tidak dapat dikatakan seluruh penduduk Kampung Cigintung tidak bersekolah, adapun beberapa penduduk tersebut yang bersekolah namun hanya sebagian kecil orang saja serta hanya sampai Sekolah Dasar pada umumnya. Selain adanya faktor ketidakmampuan dalam biaya, hal lain yang menjadi alasan kuat bagi penduduk Kampung Cigintung ialah akses jalan yang sangat buruk dengan berjalan selama kurang lebih dua jam untuk pergi keluar kampung tersebut.
Belum lagi ketika hujan datang membuat keadaan jalanan tersebut licin dan membahayakan, yang membuat rasa khawatir orangtua ketika anak mereka pergi dan pulang sekolah. Sehingga hal tersebut apabila tidak segera mencari jalan keluar atau solusi oleh pemerintah dan pihak lain dapat memungkinkan terjadinya kemiskinan sepanjang masa yang dialami penduduk sekitar karena memiliki pendidikan yang rendah.
c.       Kesehatan tidak terjamin
Kemiskinan yang dialami penduduk Kampung Cigintung Desa Sukajaya dengan berpenghasilan rendah, akses jalan yang buruk, dan sebagainya merupakan suatu tanda atas kurangnya perhatian pemerintah terhadap daerah tersebut yang terlupakan. Seharusnya hal tersebut menjadi suatu tugas penting bagi pemerintah untuk segera menyelesaikan persoalan tersebut. Karena apabila dibiarkan secara terus menerus selain dapat memiskinkan kehidupan materil mereka namun juga dapat mengancam nyawa kehidupan mereka, seperti dalam permasalahan kesehatan penduduk sekitar. Karena yang diketahui, di kampung tersebut tidak terdapat fasilitas pelayanan kesehatan apabila penduduk sedang sakit mereka dengan terpaksa diharuskan untuk turun keluar Kampung Cigintung menuju puskesmas atau rumah sakit dibawah dengan berjalan kaki atau menggunakan transportasi khusus namun membutuhkan biaya yang mahal. Saat ini penduduk Kampung Cigintung sebagian besar sudah mendapatkan haknya dari pemerintah berupa jaminan kesehatan yakni BPJS, namun persoalan tetap menjadi besar karena kases mereka untuk mengunjungi puskesmas dan rumah sakit memerlukan usaha yang keras sedangkan bagaimana ketika penduduk sedang dalam kondisi yang darurat. Maka dari itu, tak mengherankan apabila penduduk sekitar mengabaikan permasalahan kesehatan. Mereka hanya dapat mengatasi persoalan kesehatan mereka dengan obat-obatan alami dari tumbuh-tumbuhan atau dengan tindakan sederhana yaitu dengan ‘mengompres’ ketika anak panas, dan hal lainnya. Sedangkan yang kita ketahui, kesehatan memerlukan perhatian khusus tidak hanya dilakukan ketika sakit namun juga dalam memberikan vaksin atau sejenis lainnya untuk menghindari beberapa penyakit. Belum lagi persoalan lingkungan yang buruk disekitar Kampung cigintung dapat berpotensi terhadap terjangkitnya penyakit-penyakit yang dapat mengancam penduduk sekitar. Seperti apa yang dikatakan informan
“kalo anak sakit tuh kadang cuma dikompres aja, kalo ga ya kasih obat warung yang ada disini aja. Tapi kalo parah ya terpaksa kita bawa kerumah sakit bawah jalan kaki digendong kalo ga pinjem mobil desa tapi itu susah manggilnya belum lagi kalo jalannya lagi licin. Kalo lahiran gitu ya disini ada yang bisa kaya dukun beranak tapi kalo yang mau dirumah sakit ya turun kebawah, kalo kita yang tua-tua paling meramu jamu-jamuan aja yang gampang”[25]

d.      Pekerjaan Terbatas
Persoalan utama yang diresahkan penduduk Kampung Cigintung yaitu akses jalan yang buruk atau infrastruktur yang buruk. Sehingga hal tersebut menjadi pengaruh dalam segala aspek kehidupan penduduk seperti rendahnya pendidikan dan menghambat akses lainnya. Dengan hal itu, pendidikan yang rendah dapat memberikan pengaruh terhadap terbatasnya pekerjaan yakni hanya sebagai buruh tani tetapi mungkin sebagian kecil penduduk berprofesi lain. Selain faktor pendidikan rendah, akses jalan yang tidak baik juga berpengaruh terhadap terbatasnya pekerjaan karena hal tersebut menyulitkan masuknya pengaruh-pengaruh kemajuan perkotaan yang sebenarnya dapat dirasakan oleh penduduk pedesaan di Indonesia saat ini, seperti dalam berinteraksi hanya dengan penduduk sekitar Kampung Cigintung yang mengalami hal yang sama, akses internet sulit masuk ke Kampung tersebut sehigga menghambat akses info lowongan pekerjaan, jalan tidak dapat dilalui kendaraan sehingga memerlukan waktu yang panjang untuk  berjalan kaki yang membuat penduduk sulit untuk berpergian sehingga membiasakan penduduk untuk berada di kampungnya tersebut saja dalam sehari-hari.
PENUTUP
Kesimpulan
Kampung cigintung Desa Sukajaya Jonggol merupakan salah satu desa miskin yang berada di Jawa Barat, alasan utama yang membuat desa tersebut adalah karena akses yang terisoslir sehingga menyebabkan tidak terjamah oleh adanya pembangunan desa. Berdasarkan penelitian faktor-faktor yang menyebabkan desa ini menjadi miskin bukan hanya saja jalan yang terisoslir karena ada faktor lain, yaitu : tingkat pendidikan yang rendah, mata pencaharian yang hanya bergantung pada sector pertanian, dan sanitasi yang sangat terbatas dan jauh dari kata layak sehingga memunculkan permasalahan kesehatan bagi masyarakat kampong cigintung. Dari segi akses jalan serta struktur jalan yang sangat memprihatinkan dapat menghambat kegiatan masyarakat, seperti anak-anak yang ingin bersekolah dimana mereka merasakan kelelahan untuk menuju sekolah mereka. Tidak ada kendaraan, jalan yang berbatuan dan licin serta tanah-tanah yang membuat alas kaki anak-anak tersebut menjadi kotor. Factor eksternalnya ialah kurangnya pemerhatian dari pemerintahan terhadap desa ini. Masyarakat desa cigintung mengharapkan desanya menjadi maju dan memiliki perubahan yang signifikan yang dapat mereka rasakan di kehidupan sehari-hari.
Saran
Berdasarkan temuan dalam penelitian ini mengenai kemiskinan pada penduduk Kampung Cigintung Desa Sukajaya, dapat memberikan manfaat ilmu pengetahuan kepada peneliti sekaligus penulis juga pembaca. Serta yang terpenting dengan hal tersebut dapat memberikan kesadaran kita bersama terutama pemerintah dalam melakukan penanganan permasalahan tersebut dengan menyiapkan strategi penanggulangan kemiskinan yang lebih jelas. Langkah pertama yang dapat dilakukan pemerintah yaitu memperhatikan atau memperdulikan kesulitan-kesulitan penduduk Kampung Cigintung lalu segera tanggap, menyelesaikan dan mengadaptasikan rancangan strategi penanggulangan kemiskinan yang telah berjalan sedikit, dan langkah berikutnya adalah pelaksanaan yang konsisten. Serta yang terpenting memberikan bantuan dana yang banayak untuk daerah-daerah miskin dalam membantu pembangunan lalu merancang perlindungan sosial yang lebih tepat sasaran. Kemudian untuk para penduduk yang berprofesi sebagai buruh tani agar lebih aktif dalam bekerja keras serta berupaya meningkatkan usaha sawahnya mencari peluang jalan dengan berinovasi dalam meningkatkan usaha sawahnya serta mengajak kerjasama beberapa pihak yang terkait.












DAFTAR PUSTAKA
Badan Pusat Statistik (BPS). 2010. Perhitungan dan Indikator Kemiskinan Makro 2010: Profil dan Perhitungan Kemiskinan Tahun 2010. Jakarta: Badan Pusat Statistik.
Chambers, Robert. 1987. Pembangunan Desa Mulai Dari Belakang. Jakarta: LP3ES.
Hadi Nurcahyono, Okta. 2014. Perangkap Kemiskinan Pada Warga Relokasi Studi Korelasional Unsur-Unsur Perangkap Kemiskinan pada Warga Relokasi Pucang Mojo, Keudngtungkul, Mojosongo, Jebres, Surakarta. Surakarta: Tesis Universitas Sebelas Maret.
Ketut Sudhana Astika, Budaya Kemiskinan di Masyarakat: Tinjauan Kondisi Kemiskinan              dan Kesadaran Budaya Miskin di Masyarakat, Jurnal Ilmiah Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Udayana, Vol. I No.01 Tahun 2010
Sitorus, Santi. 2008. Homeless sebagai Salah Satu Bentuk Kemiskinan Struktural. Depok: Skripsi Universitas Indonesia.
Suharto, Edi. Tanpa Tahun. Kemiskinan dan Perlindungan Sosial di Indonesia: Menggagas Model Jaminan Sosial Universal Bidang Kesehatan.





[1] Kompasiana.com diakses pada 21 November 2017 pukul 21.20
[2]http://eprints.uny.ac.id diakses pada 24 November 2017 pukul 08.12
[3] Ketut Sudhana Astika, Budaya Kemiskinan di Masyarakat: Tinjauan Kondisi Kemiskinan dan Kesadaran Budaya Miskin di Masyarakat, Jurnal Ilmiah Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Udayana, Vol. I No.01 Tahun 2010. hal 22.
[4] Edi Suharto, Kemiskinan dan Perlindungan Sosial di Indonesia: Menggagas Model Jaminan Sosial Universal Bidang Kesehatan. hal 17.
[5] Badan Pusat Statistik (BPS), Perhitungan dan Indikator Kemiskinan Makro 2010: Profil dan Perhitungan Kemiskinan Tahun 2010. (Jakarta: Badan Pusat Statistik, 2010), hal 5.
[6] Ketut Sudhana Astika, op.cit, hal. 23.
[7] Santi Sitorus, Homeless sebagai Salah Satu Bentuk Kemiskinan Struktural, (Depok: Skripsi Universitas Indonesia, 2008), hal. 17. diakses pada 24 November 2017 pukul 17.23
[8] Okta Hadi Nurcahyono, Perangkap Kemiskinan Pada Warga Relokasi Studi Korelasional Unsur-Unsur Perangkap Kemiskinan pada Warga Relokasi Pucang Mojo, Keudngtungkul, Mojosongo, Jebres, Surakarta, (Surakarta: Tesis Universitas Sebelas Maret, 2014), hal 23. diakses pada 24 November 2017 pukul 19.03
[9]Ibid
[10]Ketut Sudhana Astika, op.cit, hal 23.
[11] Santi Sitorus, op.cit, hal 19.
[12]www.google.com/maps diakses pada 23 November 2017 pukul 10.20
[13]http://kecamatanjonggol.bogorkab.go.id diakses pada 23 November pukul 10.48
[14] Hasil wawancara dengan Ibu Sampur pada 18 November 2017.
[15] Hasil wawancara dengan Ibu Dewi pada 18 November 2017.
[16]Santi Sitorus, op.cit, hal 19.
[17] Hasil Wawancara dengan Teh Devi pada tanggal 18 November 2017 pukul 15.10
[18] Hasil Wawancara dengan Teh Devi pada tanggal 18 November 2017 pukul 15.10
[19] Hasil Wawancara dengan Pak Yadi tanggal 18 November 2017 pukul 13.18
[20] Okta Hadi Nurcahyono, op.cit, hal 24.
[21] Sayogyo. 1994. Kemiskinan dan Pembangunan di Provinsi Nusa: yayasan obor Indonesia.
[22]Okta Hadi Nurcahyono, op.cit, hal 24.
[23]Santi Sitorus, op.cit, hal 19.
[24]Hasil Wawanacara dengan Ibu Nesi, Pada Tanggal 18 November 2017.
[25]Hasil Wawancara dengan Pak Yadi, Pada tanggal 18 November 2017.

Read more...

Website UNJ

Current Local Time

Popular Posts

About Me

Mahasiswa Pendidikan Sosiologi Univ. Negeri Jakarta
 

Designed by: Compartidísimo
Images by: DeliciousScraps©