asdfghjlkgfjhdytdfukb
Senin, 13 Mei 2024
Minggu, 10 Juni 2018
Review Materi Teori Kontrol dalam Sosiologi Perilaku Menyimpang (Presentasi)
| di Juni 10, 2018 | 0 komentar
UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
REVIEW MATERI TEORI KONTROL DALAM SOSIOLOGI PERILAKU MENYIMPANG
Dosen: Abdul Rahman Hamid, SH, MH
Kelompok:
Arina Indah Listriani
Diana Yuli Pratiwi
Fista Windy Destanti
Hutomo Abdi
Kartika Putri Utami
Riana Dwi Nandita
Rika Rahmadania
Risti Aprianita
Siti Wulandari
FAKULTAS ILMU SOSIAL
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SOSIOLOGI
Jakarta, 2018
TEORI KONTROL DALAM SOSIOLOGI PERILAKU MENYIMPANG
History
Ada seorang tokoh bernama Travis Hirschi yang mengembangkan teori Kontrol dan menelusuri ide-ide ttg teori control ini pada abad 19. Teori control ini paling sering digunakan untuk kasus-kasus kenakalan seperti karena faktor dari keluarga, sekolah, agama dan faktor lainnya. Selain itu di abad yang sama ada juga Lamar Empey yang mencirikan konsep individualis tentang kenakalan sebagai teori control, terutama psikoanalitik. Dalam teori kontrol ini walaupun faktor keluarga yang paling berpengaruh dari adanya kenakalan ini, tetapi dalam psikoanalitik kenakalan ini justru merupakan masalah individual. Kemudian ada juga tokoh bernama walter reckless yang mengembangkan konsep diri atau penjelasan mengenai penahanan tentang kenakalan yang dari situ akan mngarah kepada perspektif psikososial. Jadi dalam asumsi dasarnya, teori control ini membahas mengenai bagaimana mengendalikan. (inti)
Asumsi Dasar
Ada 4 asumsi dasar mengenai teori control:
1. Kenakalan harus diharapkan.
2. Teori ini didasarkan bukan atas pertanyaan “mengapa seseorang melakukannya?” tetapi sebaliknya “mengapa dia seseorang tidak melakukannya”. Dari dua asumsi ini maksudnya, kalau tidak ada kenakalan teori control ini tidak berlaku atau tidak berfungsi.
3. Kenakalan adalah hasil dari kekurangan sesuatu, tidak adanya mekanisme control yang bekerja. Ada 2 tipe sistem control yaitu individualistic dan sosial. individualistic melibatkan faktor psikologis (konsep diri). sosial melibatkan institusi sosial (keluarga, sekolah, agama)
4. Adanya consensus masyarakat mengenai keyakinan dan norma yang terkait dalam institusi masyarakat.
Kontrol Pribadi
Psikoanalisis dapat dilihat sebagai perspektif kontrol. Hal ini karena di dalam psikoanalisis terdapat konsep Id, Ego, dan Superego. Konsep ini dapat dicontohkan pada sosialisasi anak pada usia dini. Namun ada perdebatan, apakah psikoanalisis dapat dikategorikan sebagai teori kontrol. Tapi bagaimanapun, asumsi psikoanalisis sama dengan asumsi umum teori kontrol.
Dalam teori penahanan (Containment Theory) yang dicetuskan oleh Walter Reckless dikatakan bahwa kenakalan remaja adalah hasil dari konsep diri yang buruk. Berbeda halnya dengan pelabelan (labelling) yang berpendapat bahwa konsep diri yang negatif adalah hasil dari pemberian (pelabelan dari luar diri). Teori penahanan didasarkan pada citra pelaku yang multifaset. Orang dikonseptualisasikan terdiri dari beberapa lapisan drive, yaitu tekanan, tarikan, dan isolator/buffer. Reckless punya identifikasi tentang 4 jenis tekanan dan penahanan, diantaranya adalah tekanan luar (sosial), penahanan eksternal, penahanan batin, dan dorongan batin (psikologi). Selain itu terdapat beberapa hal yang dapat mempengaruhi konsep diri seseorang. Yang pertama adalah tekanan eksternal, yaitu kondisi hidup yang merugikan seperti kemiskinan, pengangguran, dan status kelompok minoritas. Yang kedua adalah tarikan luar, antara lain teman-teman yang buruk, tokoh prestise yang menyimpang, geng remaja (subkultur), dan bujukan media massa. Yang ketiga adalah dorongan internal, antara lain ketegangan, frustasi, keagresifan, pemberontakan, dan kerusakan otak.
Beberapa ahli melakukan penelitian mengenai konsep diri dan menemukan hasil yang berbeda-beda. Berdasarkan penelitian Reckless yang dilakukan di Ohio, menunjukkan bahwa anak yang nakal memiliki konsep diri yang rendah dibanding anak yang baik. Konsep diri tersebut dipilih oleh guru yang kemudian divalidasi oleh guru dan ibu mereka. Tapi hasil tersebut membingungkan apa yang orang lain pikirkan dan apa yang orang lain harapkan. Lalu Michael Shwartz dan Sandra Tangril juga melakukan penelitian tentang konsep diri. Mereka meminta siswa untuk menilai diri mereka sendiri. Hasilnya adalah anak baik memiliki konsep diri yang lebih tinggi dibandingkan anak yang nakal. Konsep diri anak yang baik dipengaruhi oleh guru, sedangkan konsep diri anak yang nakal dipengaruhi oleh Ibunya.
Kontrol Sosial—Ikatan Sosial
Asumsi: perbedaan antara teori kontrol sosial dengan kontrol personal dalam perilaku menyimpang terletak pada asumsi dalam teori kontrol sosial, bahwa ikatan sosial dan kasih sayang adalah alat proteksi yang lebih kuat dibanding karakteristik individu.
Konsep kunci
Ikatan sosial: menunjukan hubungan antara individu dan masyarakat yang biasa terbentuk melalui institusi. Travis Hirschi (1969) mengkonseptualisasikan ikatan sosial dalam 4 elemen, kasih sayang, komitmen, keterlibatan, dan rasa percaya.
Diskusi. Menurut Hirschi, 4 elemen ikatan sosial menjelaskan teori kontrol sosial. Kasih sayang (attachment) mengacu pada hubungan psikologi dan emosional individu terhadap individu/kelompok lain dan sejauh mana seseorang peduli tentang pendapat dan perasaan orang lain. Menurut Hirschi, kasih sayang adalah mitra sosial bagi konsep psikologianalisis tentang superego/hati nurani. Komitmen adalah hasil dari pendekatan cost-benefit (biaya-manfaat) pada tindakan menyimpang. Hal ini mengacu pada akumulasi investasi dalam hal konformitas ke peraturan konvensional (seperti waktu, uang, usaha, status) dibandingkan dengan biaya estimasi/kerugian investasi asosiasi dengan ketidaksesuaian (tidak patuh aturan). Keterlibatan merujuk pada partisipasi dalam kegiatan konvensional yang sah. Contohnya di sekolah terdapat kegiatan ekstrakurikuler seperti OSIS dan klub olahraga. Keyakinan melibatkan penerimaan sistem nilai konvensional. Dalam logika teori kontrol, melemahnya keyakinan, untuk alasan apa pun, meningkatkan kemungkinan penyimpangan.
Laporan oleh Hirschi dan Stark meninggalkan beberapa masalah yang belum terselesaikan. Misalnya, apakah agama tidak terkait dengan kenakalan di semua lokasi, untuk semua agama dan denominasi, dan untuk semua jenis kenakalan? Masalah-masalah ini dan lainnya diatasi oleh kebanyakan penyelidikan pada tahun 1970-an, banyak di antaranya merupakan percobaan replikasi atau perluasan penelitian Hirschi dan Stark. Untuk sebagian besar, studi ini cenderung mengungkapkan beberapa hubungan antara agama dan kenakalan, tetapi asosiasi tergantung pada berbagai situasi.
Dalam satu perluasan penelitian Hirschi dan Stark, Steven Burkett dan Mervin White (1974) menyelidiki hubungan antara kenakalan yang dilaporkan sendiri dan agama di antara sampel 750 siswa sekolah menengah di Pacific Northwest.Burkett dan White menyimpulkan dari penelitian mereka bahwa partisipasi agama tampaknya menghalangi beberapa kenakalan, terutama tindakan-tindakan yang tidak ada penghukuman konsisten dalam masyarakat sekuler. Yang menarik, mereka lebih lanjut menyimpulkan bahwa alih-alih agama menjadi salah satu institusi yang paling tidak efektif untuk mengendalikan kenakalan, itu mungkin salah satu yang paling efektif, karena pengaruhnya cenderung lebih besar untuk pelanggaran-pelanggaran yang kontrol sekulernya telah melemah.
Dalam sebuah replikasi parsial dari studi Hirschi dan Stark, Paul Higgins dan Gary Albrecht (1977) meneliti hubungan antara kehadiran di gereja dan kenakalan yang dilaporkan sendiri di antara 1400 siswa sekolah menengah di Atlanta. Mereka menyimpulkan bahwa, bertentangan dengan Hirschi dan Stark, kenakalan berbanding terbalik dengan kehadiran di gereja. Hubungan ini, selanjutnya, dipengaruhi oleh variabel menghormati sistem pengadilan remaja (kecuali untuk perempuan kulit putih). Artinya, semakin besar kehadiran di gereja, semakin menghormati pengadilan remaja, dan semakin sedikit kenakalan.Dengan kata lain, mereka akhirnya menyimpulkan bahwa agama memiliki lebih banyak pengaruh pada perilaku di daerah di mana agama menempati tempat yang lebih sentral dalam kehidupan orang, seperti di Selatan. Pandangan ini juga dibagi oleh Stark et al. (1982), yang menyimpulkan bahwa di "komunitas sekuler" tidak ada hubungan antara agama, atau kehadiran di gereja, dan kenakalan. Namun, kesimpulan yang berbeda dicapai oleh Tittle dan Welch (1983), yang berpendapat bahwa faktor agama memberikan pengaruh negatif pada "penyimpangan" ketika kontrol sekuler bersaing lemah. Jadi, di daerah di mana kebanyakan orang tidak beragama (Stark dkk. "Komunitas sekuler"), dampak negatif agama terhadap kenakalan adalah yang terbesar.
Selain itu, beberapa penelitian menunjukkan bahwa dampak agama pada penggunaan narkoba remaja tidak langsung, tetapi beroperasi secara tidak langsung melalui asosiasi teman sebaya (Burkett dan Warren, 1987). Artinya, pemuda yang memiliki komitmen agama sedikit lebih cenderung memilih sebagai teman orang lain yang cenderung menggunakan ganja. Pertemanan ini, pada gilirannya, secara langsung terkait dengan penggunaan ganja di kalangan pemuda dengan keyakinan agama rendah (lihat juga, Ross, 1994a). Penelitian lain, menggunakan data longitudinal, bagaimanapun, melemparkan keraguan pada hipotesis koneksi tidak langsung ini. Penelitian ini menyimpulkan bahwa agama, termasuk kehadiran di gereja dan sikap religius, memiliki efek langsung dan negatif pada kenakalan, terlepas dari faktor pengendalian atau campur tangan, seperti ikatan sosial dan variabel hubungan teman sebaya (Johnson et al., 2001). Penelitian tambahan menyimpulkan bahwa kehadiran di gereja di kalangan anak muda Afrika-Amerika yang tinggal di daerah dengan tingkat kenakalan tinggi dan penyimpangan di kota-kota bagian dalam dapat “mengisolasi” pemuda ini dari keterlibatan dalam perilaku kriminal dan nakal, termasuk pelanggaran narkoba, dan bahwa hubungan ini langsung (Johnson et al. , 2000).
Singkatnya, mungkin tidak realistis untuk mengharapkan pengaruh agama pada kenakalan remaja menjadi lebih besar daripada kekuatan sekuler yang bersaing. Pada saat yang sama, akan sama-sama tidak realistis untuk menganggap bahwa agama tidak berpengaruh pada perilaku remaja. Sebagian besar penelitian baru-baru ini yang dibahas di atas menunjukkan bahwa ada hubungan antara dua variabel, terutama di daerah-daerah di mana agama secara umum masih berpengaruh dan dengan pelanggaran-pelanggaran nakal yang menyebabkan sanksi sekuler menjadi ambivalen. Sebuah meta analisis dari studi agama dan kenakalan lebih lanjut menegaskan dua pandangan ini. Penelitian ini meneliti 60 studi tentang hubungan antara agama dan kejahatan / kenakalan, studi sebagian besar dilakukan setelah studi "Neraka dan Kenakalan". Para penulis menyimpulkan bahwa partisipasi dan keyakinan agama memiliki dampak negatif yang sederhana, tetapi konsisten, terhadap kejahatan dan kenakalan, dengan nilai korelasi keseluruhan –.12. Hasilnya juga mendukung gagasan bahwa partisipasi agama dan / atau nilai-nilai kurang berdampak pada kenakalan di lokasi Pantai Pasifik daripada di bagian lain negara itu, dan efek penghambatan yang lebih besar pada "nonvictim" tindakan kenakalan dari pada properti dan kejahatan kekerasan (Baier dan Wright, 2001).
Faktor Keluarga Mungkin salah satu penjelasan yang paling gigih tentang perilaku nakal adalah perincian keluarga. Dari keprihatinan mereka dalam Gerakan Penghematan Anak abad kesembilan belas (Platt, 1977) hingga saat ini, keluarga telah dianggap sebagai variabel utama dalam ada atau tidak adanya kenakalan.Kepentingan dalam faktor keluarga dan kenakalan biasanya melibatkan struktur keluarga dan sifat hubungan yang terjadi di dalam keluarga (lihat Geismar dan Wood, 1986; dan Wright and Wright, 1994, untuk ulasan beberapa literatur ini). Struktur keluarga termasuk broken home yaitu, rumah di mana satu (atau kedua) orang tua alami secara permanen tidak ada karena peristiwa seperti kematian, desersi, atau perceraian tetapi, sebagai kekuatan yang mempengaruhi perilaku pemuda, ini mungkin berubah. Kualitas hubungan keluarga melibatkan faktor-faktor seperti konflik orang tua, hubungan orangtua-anak, dan pola disiplin dan pengawasan. Kedua faktor ini struktur keluarga dan sifat hubungan keluarga sekarang dibahas sehubungan dengan kenakalan.Untuk sebagian besar, studi-studi ini telah menemukan bahwa anak-anak nakal datang dari broken home secara signifikan lebih sering daripada keluarga yang maishutuh.Thomas Monahan (1957) menyimpulkanbahwakeluarga yang broken home itupastiterkaitdengankenakalan.
Meskipun bukti tampak jelas bahwa broken home dikaitkan dengan kenakalan, ada beberapa keraguan tentang pentingnya hubungan ini. Pertama, hampir semua penelitian yang mendukung hubungan antara broken home dan kenakalan telah menggunakan polisi resmi, pengadilan, atau catatan institusional sebagai ukuran kenakalan.kedua, tidak semua studi yang meneliti hubungan antara ukuran resmi kenakalan dan broken home telah menyimpulkan bahwa ada hubungan yang signifikan.Pada dasarnya, mereka menemukan hubungan menjadi tidak signifikan, terutama ketika mengendalikan variabel seperti usia dan etnis.Ketiga, hubungan antara broken home dan kenakalan hampir selalu diselidiki dari sudut pandang penjahat daripada rumahtangga yang broken home.Disini dapat disimpulkan bahwa kemungkinan menemukan kenakalan anak didalam rumah tangga yang broken home samasajamenenmukananakdidalamkeluarga yang utuh.Wells dan Rankin (1991) menyimpulkan bahwa keseluruhan hubungan antara kenakalan dan broken home adalah lemah, terutama ketika kenakalan diukur dengan metode laporan diri. Di antara semua faktor yang berkaitan dengan hubungan antara broken home dan kenakalan yang dibahas dalam analisis ini, faktor-faktor seperti periode waktu, usia, jenis kelamin, ras, dan jenis keluarga "istirahat," salah satu yang muncul sebagai memiliki hubungan terkuat adalah pengukuran kejahatan.
Banyak peneliti yang menemukan korelasi antara kenakalan resmi dan broken home juga menyimpulkan bahwa ada hubungan antara kenakalan dan berbagai hubungan keluarga. The Gluecks, misalnya, menyimpulkan bahwa kenakalan masa depan pada anak laki-laki (usia prasekolah) dapat diprediksi dari pengetahuan tentang lima faktor keluarga, tidak termasuk broken home: (1) disiplin oleh ayah (disiplin yang terlalu ketat, tidak menentu, atau lemah adalah positif terkait dengan kenakalan); (2) pengawasan oleh ibu (diklasifikasikan sebagai "sesuai," "adil," atau "tidak sesuai" dengan pengawasan yang tidak sesuai yang terkait dengan kenakalan); (3) kasih sayang ayah untuk anak laki-laki (sikap bermusuhan atau acuh tak acuh berhubungan positif dengan kenakalan); (4) kasih sayang ibu untuk anak; dan (5) kekompakan keluarga (berbanding terbalik dengan kenakalan; Glueck dan Glueck, 1950: 260-261)
Selanjutnya, masih berbicara kenakalan dalam lingkup keluarga. Terdapat beberapa penelitian dari para tokoh mengenai hubungan antara keluarga broken home dan kenakalan. Pertama, dari Hirschi pernah melakukan penelitian namun gagal dalam menunjukkan hubungan antara keluarga broken home dan kenakalan.
Hirschi menunjukan bahwa kenakalan berbanding terbalik dengan ikatan keterkaitan dalam keluarga. Artinya, tidak selalu keluarga broken home menjadi satu penyebab dari kenakalan pada remaja. Kenakalan bisa saja terjadi pada keluarga yang utuh berdasarkan keterikatan dalam keluarga tersebut.
Selanjutnya, terdapat asumsi dari Yablonsky dan Haskell, mereka menyimpulkan bahwa pola internal interaksi dalam keluarga lebih penting dalam penjelasan tentang kenakalan daripada fitur struktur keluarga. Artinya, dalam sebuah keluarga baik keluarga yang utuh maupun keluarga yang rusak dalam arti broken home, pola interaksi dalam keluarga berkontribusi besar dalam meminimalisir terjadinya kenakalan pada remaja.
Selanjutnya, pendapat dari Cernkovich dan Giordano, yang melakukan sebuah survey dan ditemukan sampel yang memiliki hubungan yang signifikan dengan kenakalan, bahwa remaja yang nakal lebih mungkin memiliki konflik dengan orang tua mereka. Temuan Cernkovich dan Giordano diterapkan di semua jenis status rumah, rusak dan tidak terputus, menunjukkan lagi bahwa kontribusi signifikan kehidupan keluarga terhadap kenakalan terletak pada kualitas hubungan di rumah, bukan dalam struktur keluarga.
Loeber dan Stouthhamer-Loeber membedakan antara control keluarga langsung dan tidak langsung. Control langsung termasuk upaya untuk menahan pergerakan anak-anak melalui jam malam, aturan ketat, hukuman dan penghargaan untuk ketidaktaatan, dsb. Di sisi lain, control tidak langsung termasuk efek menghambat dari ikatan emosional yang kuat dan sikap positif yang dirasakan anak-anak terhadap orang tua mereka.
Bukti tambahan menunjukkan bahwa perceraian memiliki efek jangka panjang pada anak-anak. Terdapat beberapa penelitian yang menjelaskan tentang kenakalan pada anak yaitu oleh Rochester New York, Jaffee Smith dan Farrington, Data Survey Nasional (Survey Pemuda Nasional), Albert Cohen dan Hirschi. Penelitian oleh Rochester, New York, terus mendokumentasikan faktor-faktor yang dapat menyebabkan kenakalan, seperti penyalahgunaan narkoba, pelecehan dll disebabkan karena efek perceraian orangtua sehingga anak yg menjadi korban dari broken home. Menurut Jaffee Smith dan Farrington tahun 2003 menjelaskan bahwa terkadang hidup dengan kedua orang tua dapat memicu terjadinya kenakalan pada anak, jika salah satu atau kedua orang tua menunjukkan pola perilaku kriminal.
Menurut Data Survey Nasional (Survei Pemuda Nasional), menunjukkan bahwa keterikatan yang kuat antara anak dengan kedua orang tua berhubungan dengan tingkat kenakalan yang lebih rendah, dibandingkan dengan keterikatan yang kuat pada satu orang tua saja. Beberapa penelitian menyimpulkan bahwa kesulitan ekonomi di daerah pedesaan maupun perkotaan merupakan faktor pemicu terjadinya perceraian (Conger et al., 1992). Sifat interaksi orang tua-anak dan suasana umum di dalam rumah, juga menentukan keadaan keluarga itu utuh atau tidaknya. Albert Cohen dengan teori batang pengukur kelas menengah menjelaskan tentang kenakalan, yang dimana kegiatan sekolah merupakan titik fokus yang besar pada perilaku remaja dan merupakan komponen utama dari teori kontrol sosial. Penelitian selanjutnya yg dilakukan oleh Hirschi juga menjelaskan bahwa jika seorang anak memiliki sikap baik di sekolah, termasuk juga sikap yang baik terhadap guru, maka anak tersebut juga memiliki tingkat kenakalan yang lebih rendah.
Secara keseluruhan, penulis menyimpulkan bahwa ikatan sekolah cukup terkait dengan kenakalan remaja, tetapi bagaimanapun juga faktor sekolah tidak kurang penting dalam memahami kenakalan daripada variabel lain, seperti orang tua dan teman sebaya.
Selain itu, Zingraff et al. (1994) menunjukkan bahwa prestasi akademik yang baik (seperti yang ditunjukkan oleh nilai, kehadiran, dan kurangnya di sekolah menjadi masalah disekolah) mengurangi risiko kenakalan di antara semua pemuda, termasuk anak-anak yang dilecehkan. Hasil mereka menunjukkan bahwa upaya untuk menjaga pemuda di sekolah dan untuk mendorong kinerja akademis yang baik dapat memimpin untuk menurunkan tingkat kenakalan, terlepas dari pelecehan anak dan kelalaian sekolah melalui kegiatan2nya dapat meredam kenakalan remaja pada anak2 yang memiliki keluarga yang kurang sempurna, seperti broken home dll.Smith et al., 1995: 233-238). Yang lain mengingatkan kita bahwa ikatan sosial yang kuat lingkungan sekolah juga dapat mengakibatkan kenakalan kurang dilakukan di sekolah (Jenkins, 1997). Pertama, tidak semua investigasi kenakalan terjadi mendukung prinsip kontrol sosial, terutama berkenaan dengan topik kesesuaian. Adanya hubungan keterikatan sosial dengan kenakalan remaja, seperti penelitian pada remaja pedesaan dan perkotaan. dimana remaja pedesaan dan oerkotaan sama-sama melakukan kenakalan karena ikatan sosial yang tinggi. disimpulkan ikatan rasial mempengaruhi kenakalan. Faktor ikatan sosial juga berpengaruh pada kenakalan minor pada anak laki-laki. dan sebaliknya pada perempuan. ikatan gender berpengaruh pada kenakalan remaja.
Teori Umum Kejahatan
Gottfredson dan Hirschi berasumsi bahwa dalam pandangan ini, sebagian besar, kejahatan dan kenakalan dapat dikaitkan dengan kondisi yang mendasari rendahnya pengendalian diri. Bukan hanya tindakan kriminal yang menjadi konsekuensi dari kontrol diri yang rendah, tetapi tindakan penyimpangan umum juga dianggap terjadi hasil kontrol diri rendah.
Gottfredson dan Hirschi mengklaim bahwa kontrol diri yang rendah pada individu, tidak ada sejak lahir. karena kontrol diri yang rendah tersebut dapat terjadi setelah dipelajari oleh individu tersebut, dan dapat berubah-berubah dalam sewaktu-waktu.
Gottfredson dan Hirschi juga mengklaim bahwa institusi keluargalah yang paling utama sebagai kontributor dalam pengendalian diri yang rendah pada seseorang. Contohnya seperti orangtua mengajarkan kedisiplinan dan memberi pengawasan lebih terhadap anak agar anak terhindar dari tindakan kenakalan atau kriminalitas. teori ini juga memiliki kesamaan dengan teori psikoanalitik. Dimana pada teori lebih menekankan pada keprobadian seseorang di masa sebelum-belumnya atau sebelum dewasa.
Selasa, 05 Juni 2018
Sabtu, 19 Mei 2018
Review-6 Dimensi Pengendalian Sosial 1
| di Mei 19, 2018 | 0 komentarPada 16 April 2018 pada mata kuliah sosiologi perilaku menyimpang Pak Rahman menjelaskan mengenai apa itu pengendalian sosial.
Jadi, Pak Rahman menjelaskan bahwa Pengendalian Sosial itu merupakan cara menghadapi perilaku yang dianggap melanggar norma sosial. Sedangkan menurut Berger (dalam PPT materi) pengendalian sosial adalah berbagai cara yang digunakan masyarakat untuk menertibkan anggota yang membangkang.
Lalu apa sebenarnya tujuan pengendalian sosial ? Jadi, pengendalian sosial bertujuan untuk memastikan/ paling kurang berusaha memastikan konformitas terhadap norma. Sebenarnya pengendalian sosial bisa dilakukan sebelum/sesudah terjadi kejadian (berkaitan dengan teori kontrol).
Kemudian mengapa masyarakat bersikap konformitas teradap norma ? Hal ini dikarenakan: 1) Mereka tidak punya pilihan lain. 2) Karena adanya bujukan untuk bersikap konformis terhadap norma tersebut 3) Karena adanya penjagaan, baik penjagaan fisik maupun sosial.
Sumber: - Perkuliahan 16 April 2018, Mata Kuliah Sosiologi Perilaku Menyimpang, FIS-UNJ
Review-5 Dimensi Pengendalian Sosial 2
| di Mei 19, 2018 | 0 komentarMasih berkaitan dengan pertemuan minggu lalu, pada 23 April Pak Rahman menjelaskan kelanjutan dari materi pengendalian Sosial.
Pak Rahman menjelaskan bahwa dimensi pengendalian sosial membahas mengenai bagaimana mencegah agar suatu penyimpangan tidak terjadi/terulang lagi dan bukan bersifat sanksi.
Kemudian, proses pengendalian sosial terbagi menjadi 2, yaitu formal dan informal. Contoh proses pengendalian dalam bentuk formal misalnya tekanan kelompok sekunder (masyarakat). Sedangkan proses pengendalian dalam bentuk informal merupakan proses pengendalian sosial yang dilakukan tanpa adanya organ yang sengaja di bentuk untuk melakukan pengendalian sosial/sanksi (tidak ada kesengajaan). Misalnya, sosialisasi dan tekanan kelompok primer (keluarga).
Selain itu ada hal-hal yang dilakukan dalam pengendalian sosial dalam sudut pandang sosiologi - Internalisasi norma kelompok yang terdiri dari bentuk (sosialisasi) dan bersifat mencegah. Internalisasi norma kelompok juga berupa nilai/norma. - Reaksi (langsung) sosial yang bentuknya berupa teguran.
Sumber: - Perkuliahan 23 April 2018,Mata Kuliah Sosiologi Perilaku Menyimpang, FIS-UNJ
Read more...
Pak Rahman menjelaskan bahwa dimensi pengendalian sosial membahas mengenai bagaimana mencegah agar suatu penyimpangan tidak terjadi/terulang lagi dan bukan bersifat sanksi.
Kemudian, proses pengendalian sosial terbagi menjadi 2, yaitu formal dan informal. Contoh proses pengendalian dalam bentuk formal misalnya tekanan kelompok sekunder (masyarakat). Sedangkan proses pengendalian dalam bentuk informal merupakan proses pengendalian sosial yang dilakukan tanpa adanya organ yang sengaja di bentuk untuk melakukan pengendalian sosial/sanksi (tidak ada kesengajaan). Misalnya, sosialisasi dan tekanan kelompok primer (keluarga).
Selain itu ada hal-hal yang dilakukan dalam pengendalian sosial dalam sudut pandang sosiologi - Internalisasi norma kelompok yang terdiri dari bentuk (sosialisasi) dan bersifat mencegah. Internalisasi norma kelompok juga berupa nilai/norma. - Reaksi (langsung) sosial yang bentuknya berupa teguran.
Sumber: - Perkuliahan 23 April 2018,Mata Kuliah Sosiologi Perilaku Menyimpang, FIS-UNJ
Jumat, 18 Mei 2018
POTRET KEMISKINAN DI PEDESAAN (Studi Kasus: Kampung Cigintung, Desa Sukajaya, Kecamatan Jonggol, Bogor)
| di Mei 18, 2018 | 0 komentar
POTRET KEMISKINAN DI PEDESAAN
Studi Kasus: Kampung Cigintung,
Desa Sukajaya, Kecamatan Jonggol, Bogor
Oleh:
Fadli Ramadhan, Gusniar, Rachmaina Putri Utami, Riana Dwi Nandita, Ruth Kristin
Destiana, Serly Septriana
peronggg@gmail.com,
gusniarmagdalena06@gmail.com,
rachmainautami@yahoo.com,
rnandita24@gmail.com,
ruthkristinds@yahoo.com,
srlyseptrianac@gmail.com
Pendidikan Sosiologi B 2015
Fakultas Ilmu Sosial
Universitas
Negeri Jakarta
ABSTRAK
Masalah kemiskinan merupakan masalah yang muncul disetiap
Negara, terutama negara-negara berkembang. Indonesia memiliki cara untuk
melakukan pembangunan yaitu dengan cara melakukan pembanguan didesa bukan hanya
dikota saja. Di Kabupaten khususnya di Jonggol implementasi kebijakan
pembanguan desa sebagai upaya penanggulangan kemiskinan menunjukan hasil yang
tidak optimal yang disebabkan oleh kebijakan pembanguan desa yang selama ini
tidak berdasarkan pada potensi desa, tidak menyeluruh, dan banyaknya desa yang
terisolasi sehingga dilupakan oleh pemerintah setempat. Peneliti tertarik untuk
meneliti sumberdaya, disposisi dan letak geografis yang terisolir yang
menyebabkan kemiskinan di Kampung Cigintung Desa Sukajaya Kecamatan Jonggol,Bogor.Penelitian
ini menggunakan metode deskriptif kualitatif melalui observasi kelapangan
dengan mengumpulkan hasil wawancara dan dokumentasi yang disertai studi
pustaka. Dalam penelitian ini peneliti mengaitkan masalah kemiskinan dengan
teori budaya kemiskinan Oscar Lewis, perangkap kemiskian Robert Chambers, dan
teori konflik dalam melihat kemiskinan menurut Landis. Unit analisis penelitian
terdiri dari lembaga desa yang diwakilakan oleh Kepala Desa, Kepala Keamaan Desa,
dan RT setempat serta enam orang masyarakat sekitar untuk menggali informasi
lebih dalam.Hasil penelitian menunjukan bahwa faktor yang menyebabkan Kampung Cigintung
menjadi desa miskin karena akses yang terisolir, serta mata pencaharian
masyarakat sekitar hanya bergantung dibidang agraris saja, tingkat pendidikan
yang rendah, serta kurangnya sanitasi sehingga permasalahan kesehatan muncul.
Kata kunci:
Implementasi, Kemiskinan, Kebijakan, Pembangunan Desa
PENGANTAR
Kemiskinan
merupakan masalah lama yang pada umumnya dihadapi hampir di semua negara-negara
berkembang, terutama negara yang padat penduduknya seperti Indonesia.
Kemiskinan seharusnya menjadi masalah bersama yang harus ditanggulangi secara
serius, kemiskinan bukanlah masalah pribadi, golongan bahkan pemerintah saja,
akan tetapi hal ini merupakan masalah setiap warga negara Indonesia. Kepedulian
dan kesadaran antar sesama warga diharapkan dapat membantu menekan tingkat
kemiskinan di Indonesia.
Pada hasil riset 2012 yang di keluarkan oleh
kompasiana.com menunjukan bahwa jumlah masyarakat di 6provinsi di Pulau Jawa
kurang lebih 17 juta penduduk yang masuk kategori warga miskin di perkotaan.
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dalam tabel berikut:
Tabel 1
Jumlah Warga Miskin di
Indonesia
Nama
Daerah
|
Jumlah
|
|
Jawa
barat
|
5.356.210
33,3
|
|
Jawa
tengah
|
4.648.630
27,3
|
|
Jogjakarta
|
560.880
3,2
|
|
Jawa
timur
|
5.107.360
30,05
|
|
Banten
|
690.490
4,05
|
|
DKI
Jakarta
|
363.420
2,1
|
|
Sumber: Kompasiana.com[1]
Berdasarkan table diatas daerah Jawa Barat memiliki
peringkat paling tinggi dalam hal kemiskian.Masyarakat kita sebagain besar
tinggal didaerah pedesaan, dan sebagian besar penduduknya hidup dalam
kemiskinan. Penyebab kemiskinan masyarakat desa yaitu Keisolasian wilayah,
kekurangan sumber daya alam dan rusaknya lingkungan sekitarnya. Kemiskinan merupakan salah satu persoalan
mendasar yang menjadi pusat perhatian pemerintah di negara manapun serta kemiskinan
merupakan gambaran kehidupan di banyak negara berkembang yang mencakup lebih
dari satu milyar penduduk dunia. Fenomena kemiskinan merupakan permasalahan yang
diakibatkan oleh kondisi nasional suatu negara dan situasi global. Globalisasi
ekonomi dan bertambahnya ketergantungan antar negara, tidak hanya merupakan
tantangan dan kesempatan bagi pertumbuhan ekonomi serta pembangunan suatu
negara, tetapi juga mengandung resiko dan ketidakpastian masa depan perekonomian
dunia. Suatu negara dikatakan miskin biasanya ditandai dengan tingkat
pendapatan perkapita rendah, mempunyai tingkat pertumbuhan penduduk yang tinggi
(lebih dari 2 persen per tahun), sebagian besar tenaga kerja bergerak di sektor
pertanian dan terbelenggu dalam lingkaran
kemiskinan.Selanjutnya kita bisa melihat bagaimana kemiskinan itu sangat
erat kaitannya dengan keterisolasian dan keterbelakangan, Keterbatasan akses
dan mutu pelayanan kesehatan hal ini dikarenakan sarana kesehatan umumnya
dibangun hanya sampai wilayah kecamatan, dengan sarana dan prasarana yang serta
sumber daya manusia yang sangat terbatas. Keterbatasan akses dan mutu
pendidikan dipedesaan menjadikan pendidikan merupakan hal yang tidak penting.
Mereka berfikir dengan bisa membantu berladang maka akan terpenuhi kebutuhan
hidupnya, karena di desa masih banyak menyedikan lahan yang cukup untuk bertani
dan berkebun. Minimnya akses Transportasi, pendidikan dan kesehatan tersebut
diatas jelas akan menyebabkan kemiskinan di pedesaan. Dengan berbagai keterbatasan
tersebut maka penduduk desa bekerja untuk mendapatkan hasil yang sangat
terbatas walau sudah berusaha maksimal. Disamping itu apabila banyaknya hasil
komoditi di desa tersebut tidak bisa digunakan secara maksimal yang
meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa tersebut, sehingga tidak dapat
memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Kampung Cigintung Desa Sukajaya Jonggol merupakan
daerah yang memiliki akses perkampungan sangat jauh dari akses jalan besar dan hanya
bisa dilalui dengan berjalan
kaki
untuk mencapai perkampungan tersebut serta struktur jalan yang
buruk dan membahayakan yang menyebabkan daerah tersebut terisolasi. Hal
tersebut yang menjadi ketertarikan sendiri
sehingga peneliti tertarik untuk meneliti sumberdaya , disposisi dan letak
geografis yang terisolir yang menyebabkan kemiskinan di Kampung Cigintung Desa
Sukajaya Jonggol Jawa Barat. Penelitian ini menggunakan
metode deskriptif kualitatif melalui observasi kelapangan dengan mengumpulkan
hasil wawancara dan dokumentasi yang disertai studi pustaka dengan teori budaya
kemiskinan Oscar lewis , perangkap kemiskian Robert chambers, pengertian desa
menurut Landis serta mengkaji
dengan
menggunakan pendekatan persepektif konflik. Unit analisis penelitian terdiri
dari lembaga desa yang diwakilakan oleh Kepala Desa , Kepala Keamaan Desa, dan
RT setempat serta masyarakat sekitar.
Rumusan Masalah
Berdasarkan
latar belakang masalah diatas maka penulis menguraikan rumusan masalah dibawah
ini :
1. Bagaimana
fakta dan kondisi demografi Kampung Cigintung Desa Sukajaya ?
2. Apa
faktor penyebab kemiskinan di Kampung Cigintung Desa Sukajaya ?
3. Apa
yang menjadi faktor penghambat di Kampung Cigintung Desa Sukajaya dalam
mengatasi kemiskinan ?
4. Apa
dampak yang ditimbulkan akibat dari kemiskinan di Kampung Cigintung Desa
Sukajaya ?
Tujuan Penelitian
Berdasarkan
pada rumusan masalah masalah diatas, maka penelitian ini bertujuan :
1. Untuk
mengetahui faktor penyebab terjadinya kemiskinan pada masyarakat Kampung
Cigintung Desa Sukajaya Kabupaten Bogor.
2.
Untuk mengetahui faktor penghambat dalam
mengatasi kemiskinan di Kampung Cigintung Desa Sukajaya Kabupaten Bogor.
3. Untuk
mengetahui dampak yang terjadi akibat dari kemiskian di Kampung Cigintung Desa
Sukajaya Kabupaten Bogor.
Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang diharapkan dari
hasil penelitian yang penulis lakukan adalah sebagai berikut :
1. Dengan
adanya hasil penelitian atau observasi tentang kemiskinan pada masyarakat
Kampung Cigintung Desa Sukajaya Kabupaten Bogor, maka hasil penelitian ini
diharapkan agar dapat memberi sumbangsih kepada masyarakat sekitar yang dominan
berprofesi sebagai petani miskin suapaya mampu mengatasi problematika
kemiskinan.
2. Dengan
adanya hasil penelitian ini diharapkan juga agar dapat memberi sumbangsih
kepada Kampung Cigintung Desa Sukajaya agar pemerintah khususnya pemerintah
daerah dapat memberikan perhatian lebih kepada kondisi wilayah dan masyarakat
Kampung Cigintung Desa Sukajaya
tersebut.
3. Penelitian
ini juga diharapkan dapat memberi sumbangan ilmu pengetahuan yang bermanfaat
bagi mahasiswa jurusan sosiologi maupun pembaca lainnya.
Kajian Teoritis
1.
Tinjauan
Desa
Pada
umumnya pengertian desa dikaitkan dengan pertanian, yang sebenarnya masih bisa
didefinisikan lagi berdasarkan pada jenis dan tingkatannya. Menurut
Koentjaraningrat mendefinisikan desa itu sebagai komunitas kecil yang menetap
tetap di suatu tempat sedangkan menurut Paul H Landis terdapat tiga definisi
tentang desa yaitu pertama desa itu lingkungan yang penduduknya kurang dari
2.500 orang, kedua desa adalah suatu lingkungan yang penduduknya mempunyai
hubungan yang saling akrab serba informal satu sama lain, dan yang ketiga desa
adalah suatu lingkungan yang penduduknya hidup dari pertanian. Suatu daerah
dapat dikatakan sebuah desa apabila masih memiliki cirri khas yang membedakannya
dengan wilayah sekita. Umumnya letak desa relative jauh dari kota dan bersifat
rural, lingkungan alam masih besar peranan dan pengaruhnya terhadap kehidupan
masyarakat daj umumnya bermata pencaharian bercorak agraris dan relative
homogen.[2]
Hubungan
kekerabatan atau corak kehidupan masyarakat desa bersifat gemainschaft yang berarti memiliki komunitas yang kuat serta
interaksinya yang intim dan langgeng juga bersifat familistik. Masyarakat desa
sangat menjunjung tinggi prinsip-prinsip kebersamaan/gotong-royong,
kekeluargaan, solidaritas, musyawarah, kerukunan dan keterlibatan sosial.
Jumlah warga di desa umumnya relative kecil dengan penguasaan IPTEK yang
relative rendah, sehingga produksi barang dan jasa relative rendah. Pembagian
kerja dan spesialisasi juga belum banyak dikenal, sehingga diferensiasi sosial
masih terbilang sedikit. Dan yang paling terlihat yaitu kehidupan sosial
budayanya bersifat stastis, dan monoton dengan tingkat perkembangan yang
lamban.
Menurut
Landis, masyarakat desa memiliki kecenderungan psikologi antara lain:
a. Sering
merasa rendah diri terhadap orang luar/kota.
b. Sikap
orang tua seringkali otoriter.
c. Kurang
peduli pada orang lain.
d. Konservatif.
e. Toleran
terhadap nilai kelompok senidir, dan tidak toleran pada nilai kelompok lain.
f. Kurang
kontak dengan dunia dan budaya luar.
g. Pasrah.
2.
Ciri-ciri
Kemiskinan
Kemiskinan
adalah suatu kondisi ketidakmampuan secara ekonomi untuk memenuhi standar hidup
rata-rata masyarakat di suatu daerah. Kondisi ketidakmampuan ini ditandai dengan
rendahnya kemampuan pendapatan untuk memenuhi kebutuhan pokok baik berupa
pangan, sandang, maupun papan. Kemampuan pendapatan yang rendah ini juga akan
berdampak berkurangnya kemampuan untuk memenuhi standar hidup rata-rata seperti
standar kesehatan masyarakat dan standar pendidikan.
Menurut
Supardi Suparlan dalam bukunya yang berjudul Kemiskinan di Perkotaan,
pengertian kemiskinan adalah:
Suatu
standar tingkat hidup yang rendah, yaitu adanya suatu tingkat kekurangan materi
pada sejumlah atau segolongan orang dibandingkan dengan standar kehidupan yang
umum berlaku dalam masyarakat yang bersangkutan. Standar kehidupan yang rendah
ini secara langsung nampak pengaruhnya terhadap tingkat keadaan kesehatan,
kehidupan moral, dan rasa harga diri dari mereka yang tergolong sebagai orang
miskin.[3]
Di
bawah ini akan peneliti jelaskan empat faktor penyebab kemiskinan yang dibahas
secara konseptual, antara lain:
a) Faktor
individual, terkait dengan kondisi fisik dan psikologis seseorang. Orang
menjadi miskin karena disebabkan oleh perilaku, pilihan, atau kemampuan dari
orang miskin itu sendiri dalam menghadapi kehidupannya.
b) Faktor
sosial, terkait dengan kondisi lingkungan sosial yang menyebabkan seseorang
menjadi miskin. Seperti, diskriminasi berdasarkan usia, gender, dan etnis.
c) Faktor
kultural, terkait dengan kondisi budaya yang menyebabkan kemiskinan, yaitu
kebiasaan hidup.
d) Faktor
struktural, terkait dengan struktur atau sistem yang tidak adil, tidak
sensitif, dan tidak accessible
sehingga menyebabkan seseorang atau sekelompok orang menjadi miskin[4]
Kemiskinan
merupakan persoalan multidimensi yang mencakup berbagai akses kehidupan, tidak
hanya mencakup sisi ekonomi, tetapi juga sosial dan budaya. Kemiskinan
dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan
dasarnya baik dari kebutuhan dasar makanan maupun non makanan yang diukur dari
sisi pengeluaran. Ada 14 kriteria yang dipergunakan untuk menentukan keluarga/
rumah tangga dikategorikan miskin adalah:
1. Luas
lantai bangunan tempat tinggal kurang dari 8 m2 per orang.
2. Jenis
lantai tempat tinggal terbuat dari tanah/ bambu / kayu murahan.
3. Jenis
dinding tempat tinggal dari bambu / rumbia / kayu berkualitas rendah / tembok
tanpa diplester.
4. Tidak
memiliki fasilitas buang air besar / bersama-sama dengan rumah tangga lain.
5. Sumber
penerangan rumah tangga tidak menggunakan listrik.
6. Sumber
air minum berasal dari sumur / mata air tidak terlindung / sungai /air hujan.
7. Bahan
bakar untuk memasak sehari-hari adalah kayu bakar / arang / minyak tanah.
8. Hanya
mengkonsumsi daging / susu / ayam satu kali dalam seminggu.
9. Hanya
membeli satu stel pakaian baru dalam setahun.
10. Hanya
sanggup makan sebanyak satu / dua kali dalam sehari.
11. Tidak
sanggup membayar biaya pengobatan di puskesmas / poliklinik.
12. Sumber
penghasilan kepala rumah tangga adalah : petani dengan luas lahan 500 m2, buruh
tani, nelayan, buruh bangunan, buruh perkebunan dan atau pekerjaan lainnya
dengan pendapatan dibawah Rp. 600.000,- per bulan.
13. Pendidikan
tertinggi kepala rumah tangga : tidak sekolah / tidak tamat SD/ hanya SD.
14. Tidak
memiliki tabungan / barang yang mudah dijual dengan minimal Rp. 500.000,-
seperti sepeda motor kredit / non kredit, emas, ternak, kapal motor, atau
barang modal lainnya.[5]
Jika
minimal 9 variabel terpenuhi maka suatu rumah tangga dikategorikan sebagai
rumah tangga miskin.
3.
Budaya
Kemiskinan menurut Oscar Lewis
Teori
ini pertama kali dikemukakan oleh Oscar Lewis. Ia adalah seorang Antopolog asal
Amerika. Menurut Lewis menjelaskan tentang kebudayaan kemiskinan sebagai
berikut:
Kebudayaan
kemiskinan dapat terwujud dalam berbagai konteks sejarah. Namun lebih cenderung
untuk tumbuh dan berkembang di dalam masyarakat yang mempunyai seperangkat
kondisi-kondisi seperti berikut ini: (1) Sistem ekonomi uang, buruh upahan dan
sistem produksi untuk keberuntungan, (2) Tetap tingginya tingkat pengangguran
dan setengah pengangguran bagi tenaga tak terampil, (3) Rendahnya upah buruh,
(4) Tak berhasilnya golongan berpenghasilan rendah meningkatkan organisasi
sosial, ekonomi dan politiknya secara sukarela maupun atas prakarsa pemerintah,
(5) Sistem keluarga bilateral lebih menonjol daripada sistem unilateral; dan
akhirnya (6) Kuatnya seperangkat nilai-nilai pada kelas yang berkuasa yang
menekankan penumpukan harta kekayaan dan adanya kemungkinan mobilitas vertikal,
dan sikap hemat, serta adanya anggapan bahwa rendahnya status ekonomi sebagai
hasil ketidaksanggupan pribadi atau memang pada dasarnya sudah rendah
kedudukannya.[6]
Dari
pandangan ini terlihat bahwa kemiskinan yang terjadi di masyarakat bukan
semata-mata karena hal ekonomi saja, melainkan adanya kekurangan di bidang
kebudayaan dan di kejiwaan seseorang sehingga membentuk budaya yang diturunkan
dari generasi ke generasi lainnya melalui proses sosialisasi. Cara hidup
seperti di atas inilah yang disebut Oscar Lewis dengan kebudayaan kemiskinan
Dengan
konsep cultural of poverty atau lebih
tepat disebut subculture of poverty,
Lewis berpendapat bahwa kemiskinan adalah suatu budaya yang berlangsung lama
dari satu generasi ke generasi berikutnya sehingga menjadi terbiasa terhadap
cara hidup miskin. Kemiskinan menunjuk pada adanya suatu cara hidup yang secara
bersama dialami dan dilakukan oleh orang-orang miskin dalam suatu konteks
sejarah dan sosial tertentu. Lewis hendak menjelaskan bahwa ada seperangkat
nilai yang dianut oleh komunitas di mana saja yang menyebabkan komunitas itu
sulit keluar dari lingaran kebudayaan kemiskinan.
Kebudayaan
kemiskinan didefinisikan sebagai pola-pola kebudayaan yang membuat orang tetap
dalam keadaan miskin. Sekali kebudayaan kemiskinan terjadi, itu akan cenderung
ada terus-menerus yang diturunkan kepada keturunannya. Para anak-anak mereka
menyerap sikap dasar dan nilai-nilai yang sudah tertanam tersebut sehingga
secara psikologi tidak siap untuk mengambil kesempatan yang mungkin bisa
dikembangkan dalam hidup mereka dan tingkat kepekaan dalam menangkap peluang,
wawasan, etos kerja, dan sebagainya menjadi rendah. Lewis mengatakan bahwa
kemiskinan dipertahankan karena adanya kebudayaan kemiskinan. Dapat disimpulkan
bahwa menurut Lewis, kemiskinan merupakan kebudayaan atau sebuah cara hidup
yang pada dasarnya diperoleh melalui proses belajar dan sifatnya selalu
diwariskan kepada generasi selanjutnya. Artinya, ada suatu setting
sosio-historis tertentu dari realitas masyarakat tersbeut yang kemudian
mengonstruksi pola atau cara hidup sebuah komunitas menajdi berkebudayaan
kemiskinan.[7]
4.
Perangkap
Kemiskinan menurut Robert Chambers
Kemiskinan
dan perangkap kemiskinan merupakan dua konsep yang disamaartikan. Tetapi pada
dasarnya konsep kemiskinan dan perangkap kemiskinan merupakan dua konsep yang
berbeda satu sama lain. Perangkap kemiskinan merupakan konsep yang sangat
kompleks jika dibandingkan dengan kemiskinan. Kemiskiann adalah satu dimensi
dari perangkap kemiskinan. Chambers menerangkan bahwa kemiskinan adalah suatu
kesatuan konsep (integrated concept) yang memiliki lima dimensi, yaitu
kemiskinan itu sendiri, kelemahan jasmani, derajat isolasi, kerentanan, dan
ketidakberdayaan.
Dari
kelima dimensi diatas, kerentanan dan ketidakberdayaan perlu mendapat perhatian
yang utama. Krentanan, menrut Chambers dapat dilihat dari ketidakmampuan
keluarga miskin untuk menyediakan sesuatu guna menghadapi situasi darurat
seperti datangnya bencana alam, kegagalan panen, atau penyakit yang tiba-tiba
menimpa keluarga miskin itu. Kerentanan ini sering menimbulkan poverty rackets atau “roda penggerak
kemiskinan” yang menyebabkan keluarga miskin harus menjual harta benda dan
asset produksinya sehingga mereka menjadi semakin rentan dan tidak berdaya.
Ketidakberdayaan
mendorong proses kemiskinan dalam berbagai bentuk, antara lain yang terpenting,
adalah pemerasan oleh kaum yang lebih kuat. Orang yang tidak berdaya seringkali
terbatas atau tidak mempunyai akses terhadap bantuan pemerintah,
setidak-tidaknya terhalang atau terhambat memperoleh bantuan hukum, serta
membatasi kemampuannya untuk menuntut upah yang layak atua menolak suku bunga;
menempatkan dirinya pada pihak yang dirugikan dalam setiap transaksi jaul beli,
dan mereka tidak mempunyai pengaruh apa-apa terhadap pemerintah dalam mengambil
keputusan. Faktor ini mendorong kelemahan jasmani, karena waktu dan tenaga
dicurahkan untuk memperoleh akses, karena tenaga dicurahkan untuk memenuhi
kewajiban terhadap majikan, sehingga mengurangi waktu dan tenaga untuk
pekerjaan rumah tangga dan pekerjaan lain. Isolasi juga berkaitan dengan
ketidakberdayaan melalui ketidakmampuan mereka menarik bantuan pemerintah,
sekolah atau petugas lapangan dan sumberdaya lainnya. Orang tidak berdaya juga
membuat orang miskin lebih rentan terhadap tuntutan untuk membayar utang,
terhadap ancaman hukuman atau denda, atau terhadap penyalahgunaan wewenang yang
merugikan.
Isolasi
terhadap pelayanan public ini terjadi karena tidak berpendidikan, tempat
tinggal yang jauh terpencil atau jangkauan komunikasi, yang menopang
kemiskinan: pelayanan dan bantuan pemerintah tidak sampai menjangkau mereka.
Isolasi bergandengan dnegan kelemahan jasmani; rumah tangga yang hidup jauh terpencil
mungkin ditinggal pergi oleh anggota keluarga dewasa untuk mencari kerja ke
kota atau desa lain.[8]
Robert
Chambers juga menegaskan bahwa faktor penyebab terjadinya kemiskinan adalah
lilitan kemiskinan hilangnya hak atau kekayaan yang sukar untuk kembali,
mungkin disebabkan desakan kebutuhan yang melampaui ambang batas kekuatannya,
misalnya pengeluaran yang sudah diperhitungkan sebelumnya, namun jumlahnya
sangat besar, atau tiba-tiba dihadapkan pada krisis yang hebat. Umumnya
kebutuhan yang mendorong seseorang yang terlilit kemiskinan, berkaitan dengan
lima hal; kewajiban adat; musibah; ketidakmampuan fisik; pengeluaran tidak
produktif dan pemerasan. Dan uraian tersebut menunjukkan bahwa faktor penyebab
terjadinya kemiskinan adalah adanya faktor internal berupa kebutuhan yang
segera harus terpenuhi namun tidak memilliki kemampuan yang cukup dalam
berusaha mengelola sumber daya yang dimiliki (keterampilan tidak memadai,
tingkat pendidikan yang minim dan lain-lain). Faktor eksternal berupa alam
seperti halnya krisis ekonomi ini, serta tidak adanya pemihakan berupa
kebijakan yang memberikan kesempatan dan peluang bagi masyarakat miskin.[9]
Skema 1
Perangkap Kemiskinan
Sumber: Robert Chambers[10]
5.
Perspektif
Konflik melihat Kemiskinan
Teori
konflik sebenarnya berada dalam satu naungan paradigm dengan teori
fungsionalisme structural. Teori structural menilai bahwa fakta atau realita
sosial adlaah fungsional. Sementara, teori konflik menyoroti bahwa fakta sosial
berupa wewenang dan posisi justru merupakan su,ber pertentangan sosial.
Wewenang dan posisi merupakan konsep sentral dari teori konflik. Menurut teori
ini, ketidakmerataan distribusi dan wewenang otomatis akan menempatkan
masyarakat pada posisi saling berbeda. Perbedaan posisi itu dapat memicu timbulnya konflik dalam masyarakat.
Dalam tekanan structural kemiskinan
terjadi sebagai akibat ketidakberdayaan seseorang atau kelompok
masyarakat terhadap sistem atau tatanan sosial yang tidak adil sehingga mereka
tidak memiliki akses untuk mengembangkan dan membebaskan diri dari perangkap
kemiskinan
Dalam teori konflik dapat membedakan
golongan yang terlibat menjadi dua tipe yakni kelompok semu dan kelompok
kepentingan. Kelompok semu sebenarnyaya mempunyai kepentingan yang sama
sedangkan kelompok kepentingan terbentuk dari kelompok semu yang pada
umumnya mempunyai struktur,organisasi, program, tujuan serta
keanggotaannya jelas. Adanya kedua tipe kelompok ini sebenarnya juga
berkaitan dengan dua sifat kepentingan yang disebut kepentingan laten atau
kepentingan manifes (Poloma,1987:138). Kepentingan laten adalah kepentingan
yang sebetulnya melekat pada diri seseorang karena menduduki posisi tertentu,
akan tetapi belum disadari.
Menurut Lewis A Coser konflik dapat
bersifat fungsional secara positif apabila berdampak memperkuat
kelompok sebaliknya bersifat negatif apabila bergerak melawan
struktur. Sebagai upaya mempertemukan kedua teori ini Piere Van den Berghe
beranggapan bahwa konflik dapat memberikan sumbangan terhadap integrasi dan
sebaliknya integrasi dapat pula melahirkan konflik. Dalam hubungan ini
dikatakan adanya empat fungsi dari konflik :
1.
Sebagai
alat untuk memelihara solidaritas
2.
Membantu
menciptakan ikatan aliansi dengan kelompok lain
3.
Mengaktifkan
peran individu yang semula terisolasi
4.
Mempunyai
fungsi komunikasi[11]
Kemiskinan,
berdasarkan perspektif teori konflik, maka ia sebagai kelompok tertindas harus
berjuang merebut hak-haknya, dengan cara bersatu dan menjadi kelompok pejuang
melawan sistem yang merugikan sehingga ia menjadi kelompok baru yang
diperhitungkan.
Penelitian
ini memiliki kesamaan maupun perbedaan dengan penelitian yang dilakukan Khuliy.
Adapun persamaannya dalam hal topic penelitian dan metode yang digunakan, yaitu
sama-sama meneliti mengenai kemiskinan dengan metode penelitian deskriptif
kualitatif. Sedangkan perbedaannya di bagian subyek penelitiannya, dan teori
yang digunakan. Pada penelitian terdahulu subyek penelitiannya adalah perempuan
miskin yang berprofesi sebagai buruh bangunan. Dengan kajian membahas kehidupan
perempuan dalam menjalani pekerjaan sebagai buruh bangunan dan pandangan
masyarakat sekitar mengenai profesi buruh perempuan tersebut. Serta teori yang
digunakan adalah teori Tindakan Sosial (Max Weber) dan Feminisme Marxis (Karl
Marx). Sedangkan pada penelitian ini subyek penelitiannya adalah
keluarga-keluarga miskin yang tinggal di Kampung Cigintung Desa Sukajaya
Kecamatan Jonggol Bogor, baik penduduk asli Bogor maupun para pendatang.
Kajianya membahas tentang masalah-masalah kemiskinan yang dialami warga miskin
di Desa Sukajaya, khususnya Kampung Cigintung dalam berbagai aspek, antara lain
masalah pendidikan, infrastruktur, kesehatan, pola hidup, dan juga
perekonomiannya. Serta menggunakan teori Kebudayaan Kemiskinan (Lewis Oscar)
dan Perangkap Kemiskinan Robert Chambers) untuk menganalisis datanya.
Penelitian ini juga mengacu pada konsep Kemiskinan (Suparlan) dan perspektif
konflik dalam melihat kemiskinan.
METODELOGI PENELITIAN
Secara
garis besar tulisan ini tersusun oleh beberapa bagian dengan sistematika
penulisan sebagai berikut. Pertama, terdapat
pengantar yang berisikan latar belakang masalah penelitian. Kedua, menjelaskan tentang profil dan
kondisidesa yang dijadikan sebagai lokasi penelitian, yaitu Kampung Cigintung,
Desa Sukajaya, Kecamatan Jonggol, Bogor. Ketiga,
menjelaskan tentang faktor penyebab kemiskinan di desa tersebut. Keempat, menjelaskan tentang faktor yang
menghambat desa tersebut dalam mengatasi kemiskinan. Kelima, menjelaskan bagaimana dampak kemiskinan bagi desa tersebut.
Keenam, di bagian penutup disajikan
sebuah kesimpulan dari keseluruhan isi tulisan beserta saran.
Jenis penelitian yang digunakan adalah
deskriptif kualitatif, yaitu penelitian yang menghasilkan data deskriptif yang
berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang dan perilaku yang dapat
diamati, peristiwa-peristiwa dan pengetahuan. Peneliti harus mampu
mengungkapkan gejala sosial yang terjadi di masyarakat. Dengan demikian,
peneliti harus mampu membangun relasi dengan narasumber atau informan untuk
mendapatkan data objektif yang akan digunakan untuk menjelaskan permasalahan.
Peneliti harus bersikap netral atau tidak memihak pada siapapun dalam membahas
data yang peneliti temukan di lokasi penelitian.Penelitian ini mengambil lokasi
di Kampung Cigintung, Desa Sukajaya, Kecamatan Jonggol, Bogor. Desa tersebut
dipilih karena menjadi salah satu desa termiskin di Bogor dan menjadi yang
termiskin di kecamatan Jonggol. Kampung Cigintung juga merupakan kampung paling
terisolir di Kecamatan Jonggol.Penelitian ini dilakukan selama dua
kali, dimulai tanggal 10 November 2017 berangkat pukul 09.00 dan pulang pukul
15.00 yang kedua pada tanggal 18 November 2017 berangkat pukul 08.30 dan pulang
pukul 17.30. Sumber data dari
penelitian ini terdiri dari dua, yaitu PertamaData
Primer yang diperoleh langsung dari narasumber dengan mengajukan pertanyaan
langsung melalui wawancara yang mendasar maupun mendalam. Kedua Data Sekunder, yaitu data yang diperoleh dari berbagai
catatan, dokumentasi, data-data yang ada di lokasi penelitian, yaituKampung
Cigintung, Desa Sukajaya, Kecamatan Jonggol, Bogor.
Dalam
pelaksanaan penelitian dilakukan pemilihan informan dengan menggunakan
(puposive sampling) yang dipilih secara sengaja berdasarkan kriteria tertentu.
Dari keseluruhan penduduk Kampung Cigintung Desa Sukajaya, dipilih infoman
pertama yaitu Kepala Desa Sukajaya yang memberikan informasi awal secara
singkat dan padat sebagai indikator peneliti melakukan penelitian di Kampung
Cigintung, kemudian informan kedua yaitu Ketua Linmas dan Ketua RT Kampung
Cigintung sebagai pemberi informasi dalam memberikan gambaran kepada peneliti,
selanjutnya informan utama yakni penduduk Kampung Cigintung Sukajaya yang
mengalami kemiskinan dan berprofesi sebagai petani yang mampu memberikan
infomrasi akurat dalam penelitian.
TEMUAN DAN PEMBAHASAN
Profil Desa
Desa Sukajaya merupakan
desa yang berada di wilayah Kecamatan Jonggol Kabupaten Bogor. Desa Sukajaya
dikepalai oleh bapak Ujang Royani. Desa Sukajaya termasuk ke dalam klasifikasi
desa swadaya, kategori desa madya dan memiliki tipologi persawahan. Desa Sukajaya memiliki luas sebesar 1.182Ha
dan desa tersebut memiliki sawah dengan luas 250 Ha yang pada umumnya ditanam.
Desa Sukajaya terletak 1.500 Mdpl, dengan tinggi curah hujan 2.000
M3, terbagi dalam 2 dusun, 5 RW serta 15 RT. Posyandu terdapat 9 lokasi yang
tersebar di 15 RT dalam 2 Dusun. Jumlah penduduk di Desa Sukajaya sebanyak 6220
jiwa dan kepadatan penduduk sebesar 5262/5,26 jiwa/km. Mata pencaharian masyarakat pada umumnya adalah sebagai petani, dengan
tingkat pendidikan rata-rata lulus SD/Sederajat
Dalam Desa Sukajaya terdapat Kampung bernam
Kampung Cigintung.Kampung
Cigintung juga merupakan desa paling terisolir di Desa Sukajaya. Untuk menuju
Kampung Cigintung harus dengan berjalan kaki selama kurang lebih dua jam. Akses
menuju Kampung Cigintung masih berupa tanah dan batuan tidak memungkin untuk
menggunakan kendaraan. Kampung Cigintung tepatnya berada di RT
04 RW 02.RT yang menjabat di Kampung Cigintung bernama Pak Yadi.
Letak Geografis Kampung
Cigintung Desa Sukajaya
Jarak Kantor
Desa ke Ibu Kota Kecamatan, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat dan Ibu Kota
Negara adalah sebagai berikut :
- Ibu Kota Kecamatan Jonggol 13 Km
- Ibu Kota Kabupaten Bogor 66 Km
- Ibu Kota Provinsi Jawa Barat 127 Km
- Ibu Kota Negara 46 Km
Gambar 1
Desa Sukajya berbatasan
langsung dengan Desa Sukanegara di sebelah utara, Desa Sukamakmur di sebelah
selatan, Desa Sukaresmi di sebelah timur, dan Desa Pabuaran yang berada di
sebelah barat. [13]
Gambar 2
Sumber: Dokumentasi Pribadi
Kondisi Demografi
Keadaan
demografi menjadi salah satu menunjang dalam memajukan suatu daerah, serta
mempengaruhi pembangunan social dan ekonomi suatu daerah dalam proses mobilitas
social masyarakat. Faktor penduduk menjadi salah satu, tak hanya itu dari segi
SDA juga mempengaruhi. Jika di suatu daerah tidak memiliki keahlian dalam
mengolah SDA maka dapat menghambat kemajuan perekonomian daerah tersebut.
Dengan demikian diperlukan keahlian seperti berkebun, bertani dan sebagainya.
Keadaan demografi Desa Sukajaya, Kecamatan Jonggol, Kabupaten Bogor sebagai
berikut :
a.
Kependudukan
Kondisi Demografi merupakan salah satu
faktor yang penting dalam pelaksanaan pembangunan sosial ekonomi yang
mempengaruhi proses mobilitas sosial masyarakat. Faktor kependudukan merupakan
faktor yang paling utama karena pembangunan adalah suatu upaya manusia untuk
merubah pola hi hidup dan posisi sosial mereka untuk tetap memenuhi kebutuhan
hidup. Sumber daya manusia merupakan salah satu modal dalam pemabangunan,
selain sumber daya alam. Namun yang perlu diketahui bahwa pertumbuhan penduduk
yang tidak terkendali dalam proses perubahan sosial juga mempengaruhi. Sebagai
contoh lambatnya mobilitas sosial karena distribusi dalam berbagai aspek tidak
merata. Jumlah Penduduk di Kampung Cigintung sendiri hanya ada 195 orang dengan
55 Kepala keluarga dan di Desa Sukajaya terdiri dari 3.088 laki-laki dan 3.132
perempuan.
b. Pendidikan
Seiring
berkembangnya zaman serta kemajuan teknologi yang tiada hentinya berinovasi
setiap saat, masih banyak sisi kelam yang terjadi di Indonesia. Layaknya,
pendidikan di Indonesia yang tidak mendapatkan solusi yang tepat dalam
menyelesaikan permasalahan yang terbilang extrim didalam pendidikan. Baik dari
segi mutu kualitas dan kuantitas pendidikan, dari segi infrastruktur, biaya
serta pengajaran. Biaya pendidikan yang tak dapat dijangkau oleh semua kalangan
masyarakat, harga perlengkapan sekolah yang semakin hari semakin naik terutama
saat akhir dan awal semester sekolah.
Sangat
miris melihat para petinggi Negara yang tidak memberi perhatian lebih baik dari
segi bantuan, motivasi, dan sebagainya bagi penerus bangsa terutama anak-anak
di Desa Sukajaya yang sangat prihatin kondisinya. Baik dari segi akses menuju
sekolah, biaya, gizi dan sebagainya. Lokasi Desa yang tidak jauh dari kota,
akan tetapi jauh dari ulur tangan Pemerintah. Sehingga menyebabkan banyaknya
pernikahan usia muda yang terjadi serta tak asing lagi di Desa tersebut
demikian juga di Kampung Cigintung Sukajaya hal yang serupa yang dialami oleh
masyarakat maupun anak-anak.
Akses
menuju sekolah yang jaraknya sangat amat jauh, bahkan anak-anak di Desa
Sukajaya dan Kampung Cigintung Sukajaya terkadang merasakan lelah karena akses
yang dilalui sangat amat jauh bagi usia mereka. Kendaraan yang tidak dapat
memasuki kawasan dikarenakan lajur jalan yang tidak memadai dan sangat
berbahaya bagi pengendara motordikarenakan banyaknya bebatuan serta tanjakan
yang licin terutama disaat hujan. Jalan yang tidak beraspal, melainkan tanah
dan lumpur.
Di
Desa Sukajaya pun sangat minim Sekolah Menengah Atas, terutama di Kampung
Cigintung sangat amat minim pendidikan. Anak-anak tersebut dapat bersekolah di
desa lain untuk melanjutkan tingkatan sekolah mereka. Hanya terdapat beberapa
sekolah saja di Desa Sukajaya, seperti hasil wawanca yang didapatkan oleh
informan Bapak Ujang di Desa Sukajaya, SDN Sodong 1 dan 2, swasta MI Almuqmin,
MI Nurul Amal dan SMP Mutiara Kencana, SMP AL Muqmin, dan SMP Mualamah. Selain
itu, bantuan Kartu Indonesia Pintar dan BPJS yang tidak merata.
c.
Pemerintahan
Dalam Lembaga pemerintahan di Desa
Sukajaya terdapat :
1.
Kepala Desa Sukajaya
2.
Danton, Pak Dinta
3.
5 RW dan 15 RT
4.
2 Kadus
5.
RT 04 RW 02, Ketua RT Pak Yadi (Kampung Cigintung)
Gambar
3
Sumber:
Dokumentasi Pribadi
d.
Sosial
Desa
Sukajaya hanya memiliki 2 SD dan 4 SMP, untuk mengenyam pendidikan Menengah
Atas harus berpindah ke desa lainnya karena jumlah sekolah yang sangat amat
minim, dapat dikatakan bahwa Desa Sukajaya belum mampu meningkatkan pendidikan
yang ada di Desa tersebut. Seharusnya semua anak-anak dapat merasakan
pendidikan yang layak, akan tetapi kurangnya pemerataan biaya maupun aspek
lainnya dari Pemerintah. Seperti yang dirasakan oleh Ibu Sampur yang memiliki 2 orang anak, 1
diantaranya masih bersekolah dan 1 lagi tidak., Ibu Sampur sangat ingin
menyekolahkan anaknya akan tetapi dari segi ekonomi yang tidak dapat memenuhi
kebutuhan sekolah anaknya seperti membeli buku, alat tulis, seragam, uang jajan
dan sebagainya.
Berikut
pernyataan dari Ibu Sampur :
“Anak saya 2, 1
sekolah. Saya sendiri tidak dapat kartu bantuan, berobat pun bayar. Sekolah sih
gratis, tapi untuk beli keperluan anak kan juga butuh uang, penghasilan bapak
juga gak cukup. Saya tamatan SMA, nikah pas usia 17tahun. Udah mengajukan kartu
bantuan tapi ditolak. Kadang-kadang anak ngeluh, kalau gak ada duit gk mau
sekolah harus dipaksa dulu, uang jajan 3000 atau 5000 kadang-kadang. Yang
sekarang mah ayah tiri, yang ini yatim. Kadang-kadang nemenin anak belajar,
disini kebanyakan SMP tergantung modal sama uangnya juga mbak. Iya, kebun punya
orangtua, sayamah ibu rumah tangga rata-rata disini ibu rumah tangga gak ada
kegiatan lain. Saya gak ada wc, mau buat tapi gak ada uangnya mbak kalau soal
air mah air selalu ada. Saya juga gak pake tv, paling ngobrol-ngobrol aja sama
yang lain.”[14]
Dilihat
juga dari segi penghasilan keluarga beliau, dimana suaminya hanya bekerja
sebagai buruh yang hanya mendapatkan penghasilan pas-pasan untuk makan
sehari-hari, dan demikian pula yang dirasakan oleh informan yaitu Mbak Dewi (21tahun) yang menikah di usia 20tahun dan belum memiliki anak.
Hampir semua permasalahan yang dirasakan ialah kurangnya perhatian pemerintah
dalam pendidikan, infrastruktur desa, sanitasi serta akses jalan.
Berikut
pernyataan dari Mbak Dewi :
“Suami kerja dipabrik
Bekasi, tergantung kadang pulang seminggu sekali. Saya kalau mandi kalau apa
gitu ke sungai, anak-anak disini mah udah biasa jadi gak gatel-gatel udah
kesehariaan juga. Saya tamatan paket C SMA. Maunya sih ada teman main anak,
tanah disini mah subur. Saya 3 bersaudara, 2 SD aja gak tamat, gak pada mau
sekolah udah pada nikah juga sih. Pemilihan kades dan kadus dipilih warga, suka
janji-janji juga tapi kenyataanya gak ada. Dari dulu gini-gini aja gak ada
perubahan. Ke pasar jauh, tiap hari pasar mah. Pengennya desa nya maju gak
gini-gini aja. Disini nanem pisang, ada yang dikirim ke pasar dibikin keripik.”[15]
e.
Pertanian
Desa Sukajaya merupakan desa yang aktiv
di sector pertanian. Hampir secara keselurahan para masyarakat bekerja sebagai
petani padi memiliki 2,500,000 ha luas sawah. Hanya orang-orang yang lulusan
SMA saja yang bekerja menjadi buruh pabrik. Akan tetapi selain di bidang
pertanian, masyarakat juga bekerja sebagai peternak ayam dan memanfaatkan
perkebunan sebagai bahan pokok kebutuhan seperti adanya daun singkong yang
diolah menjadi sayur untuk dimakan sehari-hari.
Gambar
4
Sumber:
Dokumentasi Pribadi
Faktor Penyebab
Kemiskinan
1.
Penghasilan
Rendah
Penghasilan
rendah disebabkan oleh masyarakat yang kurang memanfaatkan SDA serta tidak
adanya polda dukung dari pemerintah baik dari segi prasarana serta transportasi
yang tidak tersedia untuk menuju akses lainnya seperti ke desa sebelah maupun
ke luar desa. Serta disebabkan banyaknya masyarakat yang hanya lulusan dari SD
dan SMP saja.
Sementara
itu Robert Chambers menegaskan factor penyebab terjadinya kemisikinan adalah :
Lilitan kemiskinan hilangnya hak atau kekayaan yang sukar untuk kembali,
mungkin disebabkan desakan kebutuhan yang melampaui ambang batas kekuatannya.[16]
Bahwa penyebab kemiskinan ialah factor internal dan eksternal. Faktor internal
ialah keahlian dan sebagainya. Sedangkan factor eksternal ialah bencana alam.
Jika terjadi hujan deras maka mengganggu aktivitas masyarakat seperti
pertanian, menunda waktu panen dan sebagainya.
2.
Pola
Hidup
Penghasilan
dari buruh tani yang rendah ini mempengaruhi pola hidup masyarakat kampung
Cigintung. Dari penghasilan buruh tani yang rendah ini masyarakat memiliki gaya
hidup yang sangat sederhana. Seperti, Berpakaian dengan sederhana dan apa
adanya serta jarang memakai alas kaki.
Gambar 5
Sumber: Dokumentasi Pribadi
“keluarga saya kalau
ada rejeki lebih aja bisa membeli pakaian baru di hari raya, itu sudah
bersyukur banget. Ya kalau pas-pasan mungkin hanya membeli daging ayam saja”[17]
Tidak
seperti masyarakat perkotaan yang setiap kali hari raya lebaran membeli pakaian
baru. Masyarakat kampung Cigintung tidak seperti itu, masyarakat disini lebih
memilih untuk membeli daging dibandingkan dengan membeli pakaian baru di hari
raya. Masyarakat kampung Cigintung ketika datangnya hari raya, mereka lebih
sering berkumpul dengan keluarga di kampung Cigintung. Berkumpul dengan
keluarga sambil menikmati hidangan yang seadanya sudah membuat masyarakat
kampung Cigintung merasakan kebahagiaannya.
Pola
makanan sehari-hari dari masyarakat Kampung Cigintung sangat sederhana.
Masyarakat kampung Cigintung lebih senang memanfaatkan hasil alam di kampungnya
mereka sendiri, seperti sayuran daun singkong dan kangkung yang ada disekitaran
rumah masyarakat Kampung Cigintung. Sayur mayor yang ada di sekitaran rumah
masyarakat Kampung Cigintung merupakan milik bersama masyarakat. Masyarakat
kampung Cigintung tinggal memetik sayur tersebut lalu di masak dan rata-rata
dijadikan makanan sehari-hari mereka. Adapun tukang sayuran dan daging keliling
yang melewati kampung Cigintung, namun masyarakat disini jarang membeli sayur
dan daging dari penjual keliling itu, mereka berpikir ulang untuk membeli sayur
dan daging dari penjual keliling karena dengan pendapatan sehari yang terbatas
membuat masyarakat disini jarang membeli sayur dan daging dari penjual keliling
tersebut.
“atuh kalo disini
paling makannya daun singkong kalo ga kangkung, jarang-jarang neng makan daging
mah. Kalo daun singkong ama kangkung kan saya juga ngambil dari kebon di
belakang, tinggal ambil terus di rebus.[18]
3.
Infrastruktur
Infrastruktur
di Kampung Cigintung ini sangat dibawah rata-rata perkampungan disekitarnya.
Jalan menuju kampung Cigintung ini sangat susah dijangkau oleh kendaraan roda
dua dan kendaraan roda empat. Jalan menuju kampung Cigintung hanya bebatuan dan
tanah liat. Jika mana musim hujan, maka jalan ini penuh lumpur dan akan susah
dilewati oleh masyarakat yang akan menuju ke Kampung Cigintung.
Gambar 6
Sumber: Dokumentasi Pribadi
“Ya
emang jalan kalo pengen kesini susah, jalan seadanya. Jalannya cuman ada batu
sama tanah, ya kalo hujan becek disini, licin. Kendaraan susah buat naek keatas
sini. Apalagi kalo ada anggota masyarakat yang sudah sakit, akses menuju ke
puskesmas susah apalagi ke rumah sakit yang sangat jauh dan membutuhkan banyak
waktu untuk sampai kesana.[19]
Jalan
yang kurang memadai ini membuat kendaraan bak terbuka yang mengambil hasil
panen petani menjadi terhambat jika musim hujan, dikarenakan jalan yang licin
dan dapat membahayakan. Jika sudah begini, ekonomi masyarakat kampung Cigintung
bisa terhambat dan masyarakat kampung Cigintung tidak mendapatkan penghasilan
untuk beberapa hari. Selain dapat menghambat untuk mendapatkan hasil panen,
akses jalan yang sulit juga dapat menghambat keadaan darurat jika mana ada
anggota masyarakat kampung Cigintung yang sedang sakit dan membutuhkan
pertolongan dari pihak pukesmas atau rumah sakit. Akses menuju ke puskesmas dan
ke rumah sakit terdekat terhambat oleh akses jalan yang sulit.
Faktor Penghambat Mengatasi
Kemiskinan
Masyarakat kampung Cigintung dikatakan
miskin karena memiliki keterbatasan untuk mengakses jaringan dan struktur
sosial yang mendukung dalam mendapatkan kesempatan-kesempatan peningkatan
produktivitas. Masyarakat kampung Cigintung mempunyai faktor-faktor penghambat,
yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor internal berasal dari setiap
individu masyarakat, seperti contoh pendidikan yang rendah, dalam hal ini
masyarakat kampung Cigintung rata-rata hanya tamatan Sekolah Dasar. Sedangkan
faktor eksternal yaitu dari luar, seperti contoh pemerintah kurang
memberdayakan masyarakat Cigintung, contohnya memberdayakan teknologi dan
informasi.
Sama seperti teori faktor penyebab
kemiskinan yang dikemukakan oleh Robert Chambers. Yaitu,faktor penyebab
terjadinya kemiskinan adalah adanya
faktor internal berupa kebutuhan yang segera harus terpenuhi namun tidak
memiliki kemampuan yang cukup dalam berusaha mengelola sumber daya yang
dimiliki. Faktor eksternal berupa bencana alam seperti halnya krisis ekonomi
ini, serta tidak adanya kebijakan yang memberikan kesempatan dan peluang bagi
masyarakat miskin[20]
Peran dan Pemberdayaan dari pemerintah
kurang maksimal, yang membuat faktor penghambat mengatasi kemiskinan.
a. Peran
Pemerintah
Masyarakat kampung Cigintung merasakan
bantuan pemerintah tidak merata dan tidak maksimal. Seperti dalam sektor
infrastruktur, akses jalan menuju kampung Cigintung sangat sulit dan belum ada
bantuan dari pemerintah mengenai jalan yang sangat tidak layak ini. Selain dari
sektor infrastruktur, sektor pendidikan juga kurang mendapat perhatian dari
pemerintah. Pasalnya, untuk menempuh pendidikan sangatlah jauh dari kampung
Cigintung. Perjalanan ke sekolah dasar dari kampung Cigintung itu sekitar 2
jam, dengan akses jalan yang sulit dan anak-anak masyarakat kampung Cigintung
tidak menggunakan kendaraan untuk menuju ke sekolah.
Peran pemerintah yang tidak merata
dan maksimal dalam sektor infrastruktur dan pendidikan ini menghambat mengatas
kemiskinan. Karena dengan pendidikan yang rendah membuat masyarakat kurang
terbuka terhadap dunia luar. Serta akses jalan menuju ke kampung Cigintung yang
sulit membuat masyarakat luar yang ingin mampir atau sekedar ingin memberi
bantuan kesusahan karena akses jalan yang kurang memadai.
b. Pemberdayaan
Kurangnya peranan pemerintah dalam
memberdayakan masyarakat kampung Cigintung merupakan salah satu faktor
penghambat mengatasi kemiskinan. Pemerintah jarang turun langsung ke kampung
Cigintung untuk memberdayakan masyarakat. Program bantuan penguasaan teknologi
belum ada, hal ini membuat masyarakat kampung Cigintung tidak bisa membuka
wawasan yang luas. Selain itu, pemberdayaan wanita di masyarakat kampung Cigintung
juga tidak ada, wanita disini tugasnya hanya menjaga rumah, mengurus anak-anak
serta mengurus urusan dapur.
Gambar
7
Sumber:
Dokumentasi Pribadi
Dampak Kemiskinan
Kemiskinan
menurut Sayogyo merupakan suatu tingkat kehidupan yang berada dibawah standar
kebutuhan orang cukup bekerja dan cukup hidup sehat berdasarkan atas kebutuhan
beras dan kebutuhan gizi[21].
Fenomena kemiskinan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat yang kurang
beruntung membawa sebuah dampak terhadap masyarakat yang menyerang baik berupa
non material dan material, seperti tempat tinggal dibawah standar, kekurangan
gizi, kualitas hidup rendah, pendidikan rendah, dan sebagainya. Kemiskinan yang
terjadi di pedesaan maupun di perkotaan merupakan sebuah fenomena yang terjadi
karena terdapat sebab-sebab yang menjadi faktor penyebab terjadinya kemiskinan.
Dengan adanya dampak dari kemiskinan masyarakat mengalami kerentanan hidup yang
dapat dikaitkan melalui teori Chambers, yakni kerentanan dapat dilihat atas
ketidakmampuan keluarga miskin dalam menyediakan sesuatu guna menghadapi
situasi hidup darurat, seperti datangnya bencana alam, gagalnya panen, atau
penyakit yang dapat menimpa keluarga miskin[22].
Dengan itu, dampak kemiskinan terhadap masyarakat memberikan pengaruh terhadap
standar hidup yang rendah yakni adanya kekurangan materi dan pengaruh secara
langsung terhadap kondisi kehidupan, seperti keadaan kesehatan, kehidupan
moral, dan rasa harga diri dari mereka yang tergolong orang miskin[23].
Hal tersebut juga terkait dengan permasalahan hadirnya dampak kemiskinan yang
dialami masyarakat Kampung Cigintung Desa Sukajaya, seperti permasalahan
sebagai berikut.
Skema 2
Fenomena Kemiskinan
a. Tempat
Tinggal dibawah Standar
Tempat
tinggal merupakan suatu hal yang penting dalam kenyamanan hidup manusia. Dengan
adanya tempat tinggal yang layak, bersih, serta aman dapat memberikan
kesejahteraan hidup. Namun hal tersebut tidak dapat dirasakan oleh penduduk
Kampung Cigintung yang kurang beruntung, karena kemiskinan yang mereka rasakan
memberikan kesulitan dalam memenuhi kebutuhan hidup yang terutama dalam
pemenuhan kebutuhan papan yakni tempat tinggal yang layak. Suatu tempat tinggal
dapat dikatakan layak bukan hanya dilihat dari sudut pandang bentuk dan harga
suatu rumah, namun kelayakan dapat diukur dari kebersihan dan keamanan tempat
tinggal dan lingkungannya. Nyatanya lingkungan tempat tinggal penduduk Kampung
Cigintung dapat dikategorikan sebagai lingkungan yang kurang bersih bukan
karena persoalan budaya kotor yang sengaja diciptakan penduduk sekitar tetapi
keadaan yang menuntut terjadinya hal tersebut, seperti tidak terdapatnya
pembuangan sampah umum sehingga penduduk membuang sampah secara sembarangan
atau sebagian ada yang membakar sampah tersebut, rumah atau tempat tinggal penduduk
setara dengan jalanan yang masih berupa tanah merah lalu apabila hujan datang
mengotori pula rumah mereka, juga tidur diatas tanah tersebut hanya beralaskan
sehelai alas. Dan yang terpenting yaitu permasalahan sanitasi yang mereka alami
sangatlah memprihatinkan, penduduk sekitar tidak memiliki kamar mandi dirumah
mereka masing-masing sehingga dibangunlah beberapa MCK umum yang belum bisa
dikatakan sebagai MCK yang layak karena hanya terbuat dari beberapa kayu yang
dilapisi kain dan karung sebagai pintunya serta tanpa adanya atap dan saluran
pembuangan yang benar. Hal tersebut merupakan hal yang buruk bagi masyarakat
secra umum tetapi menjadi hal yang biasa oleh penduduk Kampung Cigintung.
Seperti apa yang dikatakan salah seorang informan.
“
ya kalau mandi di sungai kalo ga di itu kamar mandi umum walaupun begitu memang
keadaannya tapi ya sudah biasa jadi yaudah ga malu kalo mandi, buang air kecil
dsitu kelihatan orang. Disini juga ga ada yang jahil semuanya keluraga”.[24]
Gambar
8
Sumber
: Dokumentasi Pribadi
b. Pendidikan
Rendah
Pada
umumnya pendidikan merupakan sebuah kebutuhan yang penting dalam merancang masa
depan kehidupan manusia. Namun sebagian besar keadaan sosial ekonomi masyarakat
tergolong tidak mampu, dengan kata lain dapat dikatakan miskin seperti yang
dialami penduduk Kampung Cigintung. Seperti yang diketahui, dalam sekolah
swasta ataupun negeri saat ini yang telah dibantu gratis oleh pemerintah tetap
memerlukan biaya lainnya seperti seragam sekolah, uang transportasi, uang makan
atau jajan, dan lainnya. Sedangkan, yang kita ketahui penduduk Kampung
Cigintung memiliki penghasilan dibawah rata-rata yang hanya dapat mencukupi
kebutuhan pangan mereka dengan menu sederhana serta kebutuhan hidup lainnya dalam
sehari-hari. Tetapi tidak dapat dikatakan seluruh penduduk Kampung Cigintung
tidak bersekolah, adapun beberapa penduduk tersebut yang bersekolah namun hanya
sebagian kecil orang saja serta hanya sampai Sekolah Dasar pada umumnya. Selain
adanya faktor ketidakmampuan dalam biaya, hal lain yang menjadi alasan kuat
bagi penduduk Kampung Cigintung ialah akses jalan yang sangat buruk dengan
berjalan selama kurang lebih dua jam untuk pergi keluar kampung tersebut.
Belum
lagi ketika hujan datang membuat keadaan jalanan tersebut licin dan
membahayakan, yang membuat rasa khawatir orangtua ketika anak mereka pergi dan
pulang sekolah. Sehingga hal tersebut apabila tidak segera mencari jalan keluar
atau solusi oleh pemerintah dan pihak lain dapat memungkinkan terjadinya
kemiskinan sepanjang masa yang dialami penduduk sekitar karena memiliki
pendidikan yang rendah.
c. Kesehatan
tidak terjamin
Kemiskinan
yang dialami penduduk Kampung Cigintung Desa Sukajaya dengan berpenghasilan
rendah, akses jalan yang buruk, dan sebagainya merupakan suatu tanda atas
kurangnya perhatian pemerintah terhadap daerah tersebut yang terlupakan.
Seharusnya hal tersebut menjadi suatu tugas penting bagi pemerintah untuk
segera menyelesaikan persoalan tersebut. Karena apabila dibiarkan secara terus
menerus selain dapat memiskinkan kehidupan materil mereka namun juga dapat
mengancam nyawa kehidupan mereka, seperti dalam permasalahan kesehatan penduduk
sekitar. Karena yang diketahui, di kampung tersebut tidak terdapat fasilitas
pelayanan kesehatan apabila penduduk sedang sakit mereka dengan terpaksa
diharuskan untuk turun keluar Kampung Cigintung menuju puskesmas atau rumah
sakit dibawah dengan berjalan kaki atau menggunakan transportasi khusus namun
membutuhkan biaya yang mahal. Saat ini penduduk Kampung Cigintung sebagian
besar sudah mendapatkan haknya dari pemerintah berupa jaminan kesehatan yakni
BPJS, namun persoalan tetap menjadi besar karena kases mereka untuk mengunjungi
puskesmas dan rumah sakit memerlukan usaha yang keras sedangkan bagaimana
ketika penduduk sedang dalam kondisi yang darurat. Maka dari itu, tak
mengherankan apabila penduduk sekitar mengabaikan permasalahan kesehatan.
Mereka hanya dapat mengatasi persoalan kesehatan mereka dengan obat-obatan
alami dari tumbuh-tumbuhan atau dengan tindakan sederhana yaitu dengan
‘mengompres’ ketika anak panas, dan hal lainnya. Sedangkan yang kita ketahui,
kesehatan memerlukan perhatian khusus tidak hanya dilakukan ketika sakit namun
juga dalam memberikan vaksin atau sejenis lainnya untuk menghindari beberapa
penyakit. Belum lagi persoalan lingkungan yang buruk disekitar Kampung
cigintung dapat berpotensi terhadap terjangkitnya penyakit-penyakit yang dapat
mengancam penduduk sekitar. Seperti apa yang dikatakan informan
“kalo
anak sakit tuh kadang cuma dikompres aja, kalo ga ya kasih obat warung yang ada
disini aja. Tapi kalo parah ya terpaksa kita bawa kerumah sakit bawah jalan
kaki digendong kalo ga pinjem mobil desa tapi itu susah manggilnya belum lagi
kalo jalannya lagi licin. Kalo lahiran gitu ya disini ada yang bisa kaya dukun
beranak tapi kalo yang mau dirumah sakit ya turun kebawah, kalo kita yang
tua-tua paling meramu jamu-jamuan aja yang gampang”[25]
d. Pekerjaan
Terbatas
Persoalan
utama yang diresahkan penduduk Kampung Cigintung yaitu akses jalan yang buruk
atau infrastruktur yang buruk. Sehingga hal tersebut menjadi pengaruh dalam
segala aspek kehidupan penduduk seperti rendahnya pendidikan dan menghambat
akses lainnya. Dengan hal itu, pendidikan yang rendah dapat memberikan pengaruh
terhadap terbatasnya pekerjaan yakni hanya sebagai buruh tani tetapi mungkin
sebagian kecil penduduk berprofesi lain. Selain faktor pendidikan rendah, akses
jalan yang tidak baik juga berpengaruh terhadap terbatasnya pekerjaan karena
hal tersebut menyulitkan masuknya pengaruh-pengaruh kemajuan perkotaan yang
sebenarnya dapat dirasakan oleh penduduk pedesaan di Indonesia saat ini,
seperti dalam berinteraksi hanya dengan penduduk sekitar Kampung Cigintung yang
mengalami hal yang sama, akses internet sulit masuk ke Kampung tersebut sehigga
menghambat akses info lowongan pekerjaan, jalan tidak dapat dilalui kendaraan
sehingga memerlukan waktu yang panjang untuk
berjalan kaki yang membuat penduduk sulit untuk berpergian sehingga
membiasakan penduduk untuk berada di kampungnya tersebut saja dalam
sehari-hari.
PENUTUP
Kesimpulan
Kampung cigintung Desa Sukajaya Jonggol
merupakan salah satu desa miskin yang berada di Jawa Barat, alasan utama yang
membuat desa tersebut adalah karena akses yang terisoslir sehingga menyebabkan
tidak terjamah oleh adanya pembangunan desa. Berdasarkan penelitian
faktor-faktor yang menyebabkan desa ini menjadi miskin bukan hanya saja jalan
yang terisoslir karena ada faktor lain, yaitu : tingkat pendidikan yang rendah,
mata pencaharian yang hanya bergantung pada sector pertanian, dan sanitasi yang
sangat terbatas dan jauh dari kata layak sehingga memunculkan permasalahan
kesehatan bagi masyarakat kampong cigintung. Dari segi akses jalan serta
struktur jalan yang sangat memprihatinkan dapat menghambat kegiatan masyarakat,
seperti anak-anak yang ingin bersekolah dimana mereka merasakan kelelahan untuk
menuju sekolah mereka. Tidak ada kendaraan, jalan yang berbatuan dan licin
serta tanah-tanah yang membuat alas kaki anak-anak tersebut menjadi kotor.
Factor eksternalnya ialah kurangnya pemerhatian dari pemerintahan terhadap desa
ini. Masyarakat desa cigintung mengharapkan desanya menjadi maju dan memiliki
perubahan yang signifikan yang dapat mereka rasakan di kehidupan sehari-hari.
Saran
Berdasarkan temuan dalam penelitian ini
mengenai kemiskinan pada penduduk Kampung Cigintung Desa Sukajaya, dapat
memberikan manfaat ilmu pengetahuan kepada peneliti sekaligus penulis juga
pembaca. Serta yang terpenting dengan hal tersebut dapat memberikan kesadaran
kita bersama terutama pemerintah dalam melakukan penanganan permasalahan
tersebut dengan menyiapkan strategi penanggulangan kemiskinan yang lebih jelas.
Langkah pertama yang dapat dilakukan pemerintah yaitu memperhatikan atau
memperdulikan kesulitan-kesulitan penduduk Kampung Cigintung lalu segera
tanggap, menyelesaikan dan mengadaptasikan rancangan strategi penanggulangan
kemiskinan yang telah berjalan sedikit, dan langkah berikutnya adalah
pelaksanaan yang konsisten. Serta yang terpenting memberikan bantuan dana yang
banayak untuk daerah-daerah miskin dalam membantu pembangunan lalu merancang
perlindungan sosial yang lebih tepat sasaran. Kemudian untuk para penduduk yang
berprofesi sebagai buruh tani agar lebih aktif dalam bekerja keras serta berupaya
meningkatkan usaha sawahnya mencari peluang jalan dengan berinovasi dalam
meningkatkan usaha sawahnya serta mengajak kerjasama beberapa pihak yang
terkait.
Badan Pusat
Statistik (BPS). 2010. Perhitungan dan
Indikator Kemiskinan Makro 2010: Profil dan Perhitungan Kemiskinan Tahun 2010.
Jakarta: Badan Pusat Statistik.
Chambers,
Robert. 1987. Pembangunan Desa Mulai Dari
Belakang. Jakarta: LP3ES.
Hadi
Nurcahyono, Okta. 2014. Perangkap
Kemiskinan Pada Warga Relokasi Studi Korelasional Unsur-Unsur Perangkap
Kemiskinan pada Warga Relokasi Pucang Mojo, Keudngtungkul, Mojosongo, Jebres,
Surakarta. Surakarta: Tesis Universitas Sebelas Maret.
Ketut Sudhana Astika, Budaya Kemiskinan di Masyarakat: Tinjauan
Kondisi Kemiskinan dan
Kesadaran Budaya Miskin di Masyarakat, Jurnal Ilmiah Fakultas Ilmu Sosial
dan Ilmu Politik Universitas Udayana, Vol. I No.01 Tahun 2010
Sitorus,
Santi. 2008. Homeless sebagai Salah Satu
Bentuk Kemiskinan Struktural. Depok: Skripsi Universitas Indonesia.
Suharto,
Edi. Tanpa Tahun. Kemiskinan dan
Perlindungan Sosial di Indonesia: Menggagas Model Jaminan Sosial Universal
Bidang Kesehatan.
[1]
Kompasiana.com diakses pada 21 November 2017 pukul 21.20
[2]http://eprints.uny.ac.id diakses pada 24
November 2017 pukul 08.12
[3] Ketut
Sudhana Astika, Budaya Kemiskinan di
Masyarakat: Tinjauan Kondisi Kemiskinan dan Kesadaran Budaya Miskin di
Masyarakat, Jurnal Ilmiah Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas
Udayana, Vol. I No.01 Tahun 2010. hal 22.
[4]
Edi Suharto, Kemiskinan dan Perlindungan
Sosial di Indonesia: Menggagas Model Jaminan Sosial Universal Bidang Kesehatan.
hal 17.
[5]
Badan Pusat Statistik (BPS), Perhitungan dan Indikator Kemiskinan Makro 2010:
Profil dan Perhitungan Kemiskinan Tahun 2010. (Jakarta: Badan Pusat Statistik,
2010), hal 5.
[6] Ketut
Sudhana Astika, op.cit, hal. 23.
[7]
Santi Sitorus, Homeless sebagai Salah Satu
Bentuk Kemiskinan Struktural, (Depok: Skripsi Universitas Indonesia, 2008),
hal. 17. diakses pada 24 November 2017 pukul 17.23
[8]
Okta Hadi Nurcahyono, Perangkap
Kemiskinan Pada Warga Relokasi Studi Korelasional Unsur-Unsur Perangkap
Kemiskinan pada Warga Relokasi Pucang Mojo, Keudngtungkul, Mojosongo, Jebres,
Surakarta, (Surakarta: Tesis Universitas Sebelas Maret, 2014), hal 23.
diakses pada 24 November 2017 pukul 19.03
[9]Ibid
[10]Ketut
Sudhana Astika, op.cit, hal 23.
[11]
Santi Sitorus, op.cit, hal 19.
[13]http://kecamatanjonggol.bogorkab.go.id
diakses pada 23 November pukul 10.48
[14]
Hasil wawancara dengan Ibu Sampur pada 18 November 2017.
[15]
Hasil wawancara dengan Ibu Dewi pada 18 November 2017.
[16]Santi
Sitorus, op.cit, hal 19.
[17]
Hasil Wawancara dengan Teh Devi pada tanggal 18 November 2017 pukul 15.10
[18] Hasil
Wawancara dengan Teh Devi pada tanggal 18 November 2017 pukul 15.10
[19]
Hasil Wawancara dengan Pak Yadi tanggal 18 November 2017 pukul 13.18
[20] Okta
Hadi Nurcahyono, op.cit, hal 24.
[21]
Sayogyo. 1994. Kemiskinan dan Pembangunan
di Provinsi Nusa: yayasan obor Indonesia.
[22]Okta
Hadi Nurcahyono, op.cit, hal 24.
[23]Santi
Sitorus, op.cit, hal 19.
[24]Hasil
Wawanacara dengan Ibu Nesi, Pada Tanggal 18 November 2017.
[25]Hasil
Wawancara dengan Pak Yadi, Pada tanggal 18 November 2017.
Langganan:
Postingan (Atom)
































